Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Pendidikan Sebagai Otak Demokrasi.

  Sokrates terkemuka dalam sejarah merupakan salah satu pemikir yang membenci demokrasi. Bukan tanpa alasan, ketidaksetujuannya atas Demokrasi berprinsip bahwa seluruh masyarakat setara dan memiliki kebebasan. Siapapun itu, terlepas dari suku, ras, preferensi ideologi, kaum buruh atau orang yang tak berpendidikan sama harganya di mata demokrasi. Hal itu yang seringkali menyebabkan kelahiran orang-orang bodoh menjadi pemimpin. Seorang ahli tata negara yang telah melahap ratusan rak perpustakaan bisa jadi kalah suara politisnya dalam menjelaskan "bagaimana ketidakadilan hukum di suatu negara?" dibandingkan dengan seorang artis musik yang baru tenar kemarin. Seorang ilmuwan yang nyaris menghabiskan waktu hidupnya untuk penelitian bisa jadi kalah suara dalam menerangkan “mengapa terjadi gempa?” dibandingkan dengan dukun yang menjelaskan gempa terjadi karena Nyi Roro Kidul marah karena adanya perda syariah pelarangan memakai kemben. Ilustrasi yang dapat menjelaskan hal tersebut ...

Semburan Infodemi di Tengah Covid-19 dan Kecacatan Teori Konspirasi

  Lonjakan kasus COVID-19 membuka mata kita dalam melihat kekacauan penanganan.  Dalam hal ini, sektor media informasi memegang peran vital yang setara dengan otoritas kesehatan. Tugas media informasi tidak hanya menyebarkan pengetahuan namun juga memandu tentang apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh dilakukan dalam situasi saat ini. Seiringan dengan itu, media digital dengan kecepatan dan kemudahan aksesnya menjadi primadona masyarakat dalam mencari informasi.  Akan tetapi, kondisi belakangan ini media digital menyimpan seumbrek masalah  yakni berkaitan dengan infodemi. WHO mendefinisikan bahwa infodemi adalah terlalu banyak informasi, termasuk informasi palsu atau menyesatkan selama wabah penyakit. Tedros Adhnom, direktur jendral WHO mengatakan “ Kita tidak hanya melawan pandemi, namun juga melawan infodemi.”  Pada tanggal 29 Juni, WHO secara resmi memulai pembicaraan tentang efek global dan pengelolaan infodemi dengan Konferensi Infodemiologi ke-1 yang ...

Tinjaun Ekologis Hari Raya Idul Adha

Idul Adha merupakan momentum besar yang dirayakan miliaran umat Islam di dunia. Hari raya yang disebut dengan hari kurban tersebut merupakan kesempatan umat Islam untuk bersedekah dengan mengorbankan hartanya melalui penyembelihan hewan ternak seperti sapi, unta, kambing, dll.  Hal tersebut seperti yang difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah". Idul Adha memberi pelajaran tentang pengorbanan, keikhlasan dan kedermawanan.  Di samping kesalehan teologis dalam berkurban, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi tema kajian keagamaan. Jarang kita pahami bahwa ritual penyembelihan hewan kurban ternyata memiliki dampak bagi kerusakan lingkungan. Tentunya ini menjadi critical point of view yang dapat menjadikan bahan refleksi umat Islam dalam memahami ulang esensi ibadah kurban. Tulisan ini membahas dua isu lingkungan yang inheren dalam perayaan Idul Adha yakni isu sampah plastik dan industri peter...