Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Kekerasan Seksual dan Kesetaraan Gender : Refleksi Pendidikan Kita

Dalam lingkup institusi pendidikan, kampus menempati urutan paling banyak terjadi kekerasan seksual (27 persen), kemudian pesantren atau pendidikan berbasis islam sebanyak 19 persen. Tingkat SLTA sebanyak 7 persen, SMP, TK, SD dan SLB masing-masing 3 persen. Selain itu, lingkungan kampus menduduki area publik nomor 3 setelah jalanan dan alat transportasi dalam hal kerentanan kasus kekerasan seksual. Survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan pada tahun 2020 menunjukkan sebanyak 77% dosen di Indonesia mengatakan bahwa kekerasan seksual pernah terjadi di kampus. Namun, 63% diantaranya tidak melaporkan kejadian karena khawatir terkena stigma.  Kampus yang pada dasarnya berisikan kaum terpelajar justru menjadi tempat bagi predator seksual berbungkus intelektual. Suatu ironi yang saat ini kita hadapi bahwa data tersebut merupakan fakta pendidikan kita yang selama ini jarang disadari. Isu kekerasan seksual di kampus layaknya gunung es yang hanya sedikit terlihat di permukaan. Ini diseb...

Memahami Ulang G30S : Sejarah yang Belum Selesai

  Reformasi membuka gerbang kebebasan bernarasi. Termasuk di dalamnya, yakni sejarah mendapatkan lebih banyak ruang untuk memunculkan narasi-narasi kebenarannya setelah selama dasawarsa lebih di monopoli oleh Rezim Otoriter. Gerakan 30 September tentu saja menjadi bagian sejarah Orde Baru yang sampai kini menyisakan tanda tanya besar. Diskusi baru dan buku-buku diterbitkan untuk merumuskan ulang kebenaran sejarah. Memang pelik, terutama sejarah yang didalamnya terdapat konflik, syarat akan muatan politis dan ideologis yang pada saat itu suhunya memanas. Narasi sejarah yang kita yakini sekarang dibentuk oleh benturan ideologi dan politik yang bertarung memperebutkan kuasa sejarah. Sehingga kebenaran tentang fakta sejarah terkubur dalam berbagai tumpukan jerami tafsiran-tafsiran yang rumit.  Siapa Dalangnya? 1). Partai Komunis Indonesia Bagi Rezim Orde Baru, PKI yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Bahkan sampai sekarang pun, perspektif Orde Baru masih menguasai opini p...

Riwayat Pandemi : Sebuah Telaah Sejarah

Dalam sejarah, COVID-19 bukan satu-satunya wabah yang mengagetkan kemanusiaan. Bila kita mundur ke belakang, terdapat wabah dan penyakit menular yang jauh lebih mengerikan daripada yang kita hadapi sekarang ini. Sejarawan, Yuval Noah Harari menyatakan bahwa setelah kelaparan, musuh terbesar manusia adalah wabah dan penyakit menular. Perjalanan sejarah manusia melewati rombongan virus dan patogen yang telah membuat macet laju peradaban. Beberapa diantaranya adalah Peloponesi, Wabah Justinian, Black death, Cacar, Kolera, Flu Spanyol, SARS, Flu Babi, Ebola, HIV/AIDS dan COVID-19. Tulisan ini akan membahas riwayat pandemi dalam perjalanan sejarah umat manusia yang dapat ditarik sebagai pembelajaran sejarah. Pengaruh penyakit terhadap kematian kiranya menjadi signifikan tatkala manusia mulai memasuki peradaban agraris. Pada masa berburu dan meramu, kematian lebih banyak disebabkan oleh kurangnya nutrisi, intaficide atau pembunuhan bayi, dan geronticide atau pembunuhan orang usia tua. Namun...

Kemerdekaan Indonesia: Perspektif Historis Versi Belanda

Hampir seluruh masyarakat Indonesia tentunya mengamini bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Guru-guru sejarah di sekolah mengajarkan hal demikian, pengetahuan sejarah akan hal itu sudah dipakemkan dan sangat langka sekali peringatan hari kemerdekaan diselenggarakan bukan atas dasar pengetahuan sejarah tersebut. Dengan demikian tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia adalah fakta sejarah yang sudah final, titik.  Argumen diatas adalah konsumsi umum masyarakat tentang kebenaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku dalam penalaran sejarah yang berupaya merekonstruksi peristiwa sejarah. Sejarah sebagi ilmu harus terus berupaya mempertanyakan dan merevisi kebenaran sejarah dengan melihat berbagai perspektif. Kepastian tentang tanggal kemerdekaan Indonesia merupakan tema yang menarik untuk diulik. Terdapat tafsiran berbeda tentang tanggal kemerdekaan Indonesia yang didasarkan perbedaan kepentingan pol...

Pendidikan Sebagai Otak Demokrasi.

  Sokrates terkemuka dalam sejarah merupakan salah satu pemikir yang membenci demokrasi. Bukan tanpa alasan, ketidaksetujuannya atas Demokrasi berprinsip bahwa seluruh masyarakat setara dan memiliki kebebasan. Siapapun itu, terlepas dari suku, ras, preferensi ideologi, kaum buruh atau orang yang tak berpendidikan sama harganya di mata demokrasi. Hal itu yang seringkali menyebabkan kelahiran orang-orang bodoh menjadi pemimpin. Seorang ahli tata negara yang telah melahap ratusan rak perpustakaan bisa jadi kalah suara politisnya dalam menjelaskan "bagaimana ketidakadilan hukum di suatu negara?" dibandingkan dengan seorang artis musik yang baru tenar kemarin. Seorang ilmuwan yang nyaris menghabiskan waktu hidupnya untuk penelitian bisa jadi kalah suara dalam menerangkan “mengapa terjadi gempa?” dibandingkan dengan dukun yang menjelaskan gempa terjadi karena Nyi Roro Kidul marah karena adanya perda syariah pelarangan memakai kemben. Ilustrasi yang dapat menjelaskan hal tersebut ...

Semburan Infodemi di Tengah Covid-19 dan Kecacatan Teori Konspirasi

  Lonjakan kasus COVID-19 membuka mata kita dalam melihat kekacauan penanganan.  Dalam hal ini, sektor media informasi memegang peran vital yang setara dengan otoritas kesehatan. Tugas media informasi tidak hanya menyebarkan pengetahuan namun juga memandu tentang apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh dilakukan dalam situasi saat ini. Seiringan dengan itu, media digital dengan kecepatan dan kemudahan aksesnya menjadi primadona masyarakat dalam mencari informasi.  Akan tetapi, kondisi belakangan ini media digital menyimpan seumbrek masalah  yakni berkaitan dengan infodemi. WHO mendefinisikan bahwa infodemi adalah terlalu banyak informasi, termasuk informasi palsu atau menyesatkan selama wabah penyakit. Tedros Adhnom, direktur jendral WHO mengatakan “ Kita tidak hanya melawan pandemi, namun juga melawan infodemi.”  Pada tanggal 29 Juni, WHO secara resmi memulai pembicaraan tentang efek global dan pengelolaan infodemi dengan Konferensi Infodemiologi ke-1 yang ...

Tinjaun Ekologis Hari Raya Idul Adha

Idul Adha merupakan momentum besar yang dirayakan miliaran umat Islam di dunia. Hari raya yang disebut dengan hari kurban tersebut merupakan kesempatan umat Islam untuk bersedekah dengan mengorbankan hartanya melalui penyembelihan hewan ternak seperti sapi, unta, kambing, dll.  Hal tersebut seperti yang difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah". Idul Adha memberi pelajaran tentang pengorbanan, keikhlasan dan kedermawanan.  Di samping kesalehan teologis dalam berkurban, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi tema kajian keagamaan. Jarang kita pahami bahwa ritual penyembelihan hewan kurban ternyata memiliki dampak bagi kerusakan lingkungan. Tentunya ini menjadi critical point of view yang dapat menjadikan bahan refleksi umat Islam dalam memahami ulang esensi ibadah kurban. Tulisan ini membahas dua isu lingkungan yang inheren dalam perayaan Idul Adha yakni isu sampah plastik dan industri peter...

Memahami Nalar Kritis.

"Pengetahuan sejati adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu." Begitulah kira-kira ucapan Sokrates untuk mendefinisikan bagaimana cara memahami pengetahuan. Walaupun dikenal sebagai filsuf brilian, dalam setiap kesempatan berbicara atau diskusi, Sokrates lebih suka menjadi pendengar yang aktiv dari pada menceramahi orang-orang. Aktivitas filsafatnya dilakukan dengan berjalan-jalan di sudut-sudut kota Athena, pasar dan tempat ramai untuk menanyai orang-orang tentang hakikat hidup, moral, manusia dan pengetahuan.  Terdapat kesamaan pola mengenai apa yang diperbuat oleh para pemikir hebat.  Mereka berpikir tidak seperti kebanyakan orang. Barangkali jutaan pasang mata manusia melihat apel jatuh, namun hanya Isac Newton yang bertanya "mengapa apel itu jatuh?".  Bukan berarti Newton  merupakan orang tak punya kesibukan, melainkan nalar kritis yang memandunya untuk bertanya demikian. Pertanyaan remeh Newton  membawa lompatan besar ilmu pengetahuan dalam sejarah umat ma...

Mempertanyakan Cinta Bersama Arthur Schopenhauer.

  Jatuh cinta begitu indah. Seindah pengalaman yang pernah kita alami, apapun itu. Perasaan antusias, sensasi candu dan kepuasan batin yang membuat hidup lebih bergairah merupakan luapan emosi positif yang hadir ketika jatuh cinta. Disisi lain, cinta dapat membuat hidup lebih suram. Jiwa yang mabuk dan rasionalitas yang buta dapat dengan mudah menggiring manusia kepada patah hati dan penderitaan. Ditolak dan kehilangan pujaan hatinya sama seperti kehilangan motivasi hidupnya. Hari-hari yang cerah sekejap menjadi mendung.  Sepanjang sejarah, ekspresi cinta termanifestasikan dalam lagu, film, karya seni, puisi dan sastra yang pada gilirannya membentuk persepsi manusia atas cinta itu sendiri. Kebanyakan penyair, sastrawan dan seniman menafsirkan cinta dengan penghayatan yang berbeda-beda. Namun kesamaanya mereka menghayati sensasi sebagaimana apa yang mereka rasakan. Karya-karya mereka adalah representasi pengalaman subjektif. Walaupun tidak semuanya begitu.  Pemaknaan atas ...

Stoikisme : Rumus-Rumus Kebahagiaan

" Seorang dapat mencapai kebahagiaan dengan menerima bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik" Zeno dari Citium Kutipan ini yang kini menjadi wallpaper catatan saya di handphone. Saya terkesan. Begitu menyejukan. Zeno adalah pendiri aliran Filsafat Stokisme. Aliran filsafat ini menjadi satu dari sekian banyaknya tradisi berpikir yang tumbuh subur di ladang pengetahuan Yunani Kuno 300 SM. Sampai sekarang Stokisme tidak usang dan justru semakin laku dalam menjawab pasar kepelikan masalah manusia modern. Kini orang-orang kembali menulusuri gagasan kuno tersebut untuk mengobati jiwa yang terluka, menjaga ketenangan hati, menyelamatkan diri saat frustasi dan menjawab berbagai keruwetan dalam diri sendiri. Stokisme mengajarkan kita untuk selalu tenang dan bijak dalam laku keseharian dengan cara mengenali diri sendiri (know yourself) atau penguasaan diri (self mastery) . Asumsi dasarnya kita harus bisa membedakan antara apa yang dapat kita kendalikan dengan apa yang di...

Meringkas Sejarah Umat Manusia dalam Tiga Revolusi.

  Pada awalnya manusia telah ada sebelum sejarah dimulai. Jika benar-benar terdapat mesin waktu kita bisa kembali sekitar 2,5 juta tahun yang lalu untuk pergi ke Afrika. Disana kita akan menjumpai binatang yang sekarang kita anggap sebagai manusia ( homo sapiens : hewan bergenus homo dan berspesies sapiens ). Bermakna manusia tahu.  Kita mungkin juga akan menemukan sekelompok manusia yang mirip dengan kita namun tidak seberuntung kita. Saudara kita seperti Homo Naendertal, Denisova, Floresiensis, Erectus dan masih banyak lagi spesies manusia telah lama meninggalkan kita sendirian di bumi. Dalam klasifikasi biologi kita satu keluarga dengan mereka dalam family hominidae --kera besar. Sapiens layaknya adalah binatang mamalia yang sangat bergantung pada alam dan tidak memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar.  Ia adalah makhluk pinggiran yang menjadi bagian rantai makanan. Sama seperti kunang-kunang, gajah atau macan tutul. Yuval Noah Harari...

Memahami Etika dan Relasi Manusia dengan Alam.

  Krisis sampah plastik, climate change, perlindungan satwa liar dan apapun isu yang digeluti aktivitis lingkungan nyaris semua setuju bahwa dasar motivasi mereka adalah kepedulian kepada lingkungan. Jargon yang lumrah dikampanyekan adalah "save the earth" . Jargon tersebut seolah-olah mengartikan bahwa bumi sedang mengalami krisis dan masa depan bumi hanya berada di tangan kita. Orang-orang menganggap bahwa krisis lingkungan adalah ancaman kepada bumi. Asumsi yang telah diterima sebagai kemapanan tersebut mampu menggerakkan kolektivitas sosial dalam menanggapi isu lingkungan. Belakang ini banyak kampanye yang menganjurkan memakai totebag, sedotan stainles steel dan berbagai properti ramah lingkungan. Namun dibalik semua trend tersebut selalu ada critical point of view yang berguna untuk mengevaluasi gerakan tersebut.  Catatan kritis penulis adalah "Apakah kita benar-benar bertujuan menyelamatkan bumi? Apakah kita benar-benar murni peduli kepada lingkungan?."  Terny...