Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Mempertanyakan Cinta Bersama Arthur Schopenhauer.

  Jatuh cinta begitu indah. Seindah pengalaman yang pernah kita alami, apapun itu. Perasaan antusias, sensasi candu dan kepuasan batin yang membuat hidup lebih bergairah merupakan luapan emosi positif yang hadir ketika jatuh cinta. Disisi lain, cinta dapat membuat hidup lebih suram. Jiwa yang mabuk dan rasionalitas yang buta dapat dengan mudah menggiring manusia kepada patah hati dan penderitaan. Ditolak dan kehilangan pujaan hatinya sama seperti kehilangan motivasi hidupnya. Hari-hari yang cerah sekejap menjadi mendung.  Sepanjang sejarah, ekspresi cinta termanifestasikan dalam lagu, film, karya seni, puisi dan sastra yang pada gilirannya membentuk persepsi manusia atas cinta itu sendiri. Kebanyakan penyair, sastrawan dan seniman menafsirkan cinta dengan penghayatan yang berbeda-beda. Namun kesamaanya mereka menghayati sensasi sebagaimana apa yang mereka rasakan. Karya-karya mereka adalah representasi pengalaman subjektif. Walaupun tidak semuanya begitu.  Pemaknaan atas ...

Stoikisme : Rumus-Rumus Kebahagiaan

" Seorang dapat mencapai kebahagiaan dengan menerima bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik" Zeno dari Citium Kutipan ini yang kini menjadi wallpaper catatan saya di handphone. Saya terkesan. Begitu menyejukan. Zeno adalah pendiri aliran Filsafat Stokisme. Aliran filsafat ini menjadi satu dari sekian banyaknya tradisi berpikir yang tumbuh subur di ladang pengetahuan Yunani Kuno 300 SM. Sampai sekarang Stokisme tidak usang dan justru semakin laku dalam menjawab pasar kepelikan masalah manusia modern. Kini orang-orang kembali menulusuri gagasan kuno tersebut untuk mengobati jiwa yang terluka, menjaga ketenangan hati, menyelamatkan diri saat frustasi dan menjawab berbagai keruwetan dalam diri sendiri. Stokisme mengajarkan kita untuk selalu tenang dan bijak dalam laku keseharian dengan cara mengenali diri sendiri (know yourself) atau penguasaan diri (self mastery) . Asumsi dasarnya kita harus bisa membedakan antara apa yang dapat kita kendalikan dengan apa yang di...

Meringkas Sejarah Umat Manusia dalam Tiga Revolusi.

  Pada awalnya manusia telah ada sebelum sejarah dimulai. Jika benar-benar terdapat mesin waktu kita bisa kembali sekitar 2,5 juta tahun yang lalu untuk pergi ke Afrika. Disana kita akan menjumpai binatang yang sekarang kita anggap sebagai manusia ( homo sapiens : hewan bergenus homo dan berspesies sapiens ). Bermakna manusia tahu.  Kita mungkin juga akan menemukan sekelompok manusia yang mirip dengan kita namun tidak seberuntung kita. Saudara kita seperti Homo Naendertal, Denisova, Floresiensis, Erectus dan masih banyak lagi spesies manusia telah lama meninggalkan kita sendirian di bumi. Dalam klasifikasi biologi kita satu keluarga dengan mereka dalam family hominidae --kera besar. Sapiens layaknya adalah binatang mamalia yang sangat bergantung pada alam dan tidak memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar.  Ia adalah makhluk pinggiran yang menjadi bagian rantai makanan. Sama seperti kunang-kunang, gajah atau macan tutul. Yuval Noah Harari...