![]() |
Pada awalnya manusia telah ada sebelum sejarah dimulai. Jika benar-benar terdapat mesin waktu kita bisa kembali sekitar 2,5 juta tahun yang lalu untuk pergi ke Afrika. Disana kita akan menjumpai binatang yang sekarang kita anggap sebagai manusia (homo sapiens : hewan bergenus homo dan berspesies sapiens). Bermakna manusia tahu.
Kita mungkin juga akan menemukan sekelompok manusia yang mirip dengan kita namun tidak seberuntung kita. Saudara kita seperti Homo Naendertal, Denisova, Floresiensis, Erectus dan masih banyak lagi spesies manusia telah lama meninggalkan kita sendirian di bumi. Dalam klasifikasi biologi kita satu keluarga dengan mereka dalam family hominidae--kera besar.
Sapiens layaknya adalah binatang mamalia yang sangat bergantung pada alam dan tidak memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan lingkungan sekitar. Ia adalah makhluk pinggiran yang menjadi bagian rantai makanan. Sama seperti kunang-kunang, gajah atau macan tutul.
Yuval Noah Harari (2011) membagi 3 revolusi besar yang menentukan jalan perjalan sejarah umat manusia. Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian dan Revolusi Sains. Ketiga Revolusi tersebut menuntun manusia sejak masa nomaden sampai tibanya peradaban modern.
Revolusi Kognitif menjadi lompatan pertama manusia dengan ditandainya keberhasilan manusia saat menaklukkan api. Kekuatan api dapat menjadi senjata bertahan dari hewan buas, penghangat di saat dingin dan sumber penerangan dalam gelap. Yang penting dari api, ia dapat membantu manusia mendapatkan makanan lebih banyak. Sejak manusia memasak, ia mendapatkan lebih banyak jenis makanan yang dulu tidak bisa dikunyah dalam bentuk organiknya. Seperti beras, gandum dan kentang. Variasi makanan memasok gizi dan nutrisi lebih kepada manusia.
Tidak kalah penting juga, sejak saat itu manusia memiliki waktu luang karena makanan hasil masakan api tidak membutuhkan waktu lama untuk dikunyah. Berbeda dengan simpanse yang butuh 5 jam dalam sehari untuk menghabiskan makanan mentahnya. Waktu luang tersebut berharga untuk berpikir, bergosip, membangun mitos serta melahirkan budaya-budaya baru. Waktu luang menyebabkan manusia mulai mencari makan hidup. Revolusi kognitif yang memungkinkan manusia berpikir dan berkomunikasi dengan cara yang berbeda dari pada sebelumnya.
Pada sekitar 9500-8500 silam manusia mulai menyirami sayuran di ladang, memanen padi, menabur biji-bijian dan mencabuti rumput untuk kambing serta menghabiskan setengah hari di sawah. Pekerjaan ini kita dapatkan saat Revolusi Agrikultur. Pada waktu tersebut manusia mulai melangkah lebih depan memimpin rantai makanan. Manusia berhasil merumahkan tumbuhan dan spesies binatang lainya yang pada 2,5 tahun sebelumnya mereka berkembangbiak terpisah dari ulah tangan manusia ketika manusia hanya mengandalkan ketrampilan berlari, melempar tombak dan menangkap ikan saat menjadi pemburu pengumpul.
Seiring dengan berjalannya Revolusi pertanian, manusia mulai menetap untuk menjaga gandum dari serangan hama dan melindungi babi dari serbuan kelompok lainya. Pada saat yang sama memunculkan pemukiman yang mengandalkan sumber makanan dari hasil beternak dan bertani. Semakin bertambah pula populasinya umat manusia, ia berkembang dengan cara yang berbeda, lebih kompleks dengan jejaring budaya yang memungkinkan manusia bekerja kolektif dalam membangun peradaban. Selanjutnya kerajaan-kerajaan kecil dan imperium besar mulai merubah kelompok kecil menjadi jejaring sosial yang lebih besar dengan kekuatan berupa realitas fiksi.
Realitas fiksi tersebut berupa uang, negara, keadilan, perseroan terbatas, agama, ideologi dan keadilan. Realitas fiksi menjadi alasan mengapa manusia dapat membentuk peradaban hingga survive sampai sekarang. Realitas fiktif bekerja dalam imajinasi kolektif dan dipercayai sebagai kebenaran. Indonesia adalah ketegori realitas fiksi yang diciptakan pada tanggal 17 Agustus 1945. Apakah Indonesia kumpulan pulau-pulau yang tergambar di peta ? Apakah Indonesia adalah secarik kain merah putih? Apakah Indonesia berupa manusia yang menghuni wilayah Kalimantan, Jawa, Sumatera dan Papua ? Semua itu bukan Indonesia. Indonesia adalah apa yang dipercaya dan dimajinasikan orang-orang Hindia Belanda tentang sebuah kemerdekaan. Orang Indonesia percaya bahwa Indonesia berada namun Indonesia akan hilang jika orang Indonesia berhenti percaya keberadaan Indonesia.
Tidak jauh berbeda seperti Coca-cola, Feminisme, Dolar dan Hak asasi manusia yang merupakan imajinasi kolektif manusia. Realitas fiktif tersebut berbeda dengan realitas objektif yang merupakan kenyataan yang dapat dijangkau oleh panca indera manusia seperti pohon, laut, gunung, macan dll. Kemampuan manusia dalam menciptakan realitas fiktif tersebut mampu menjadi jejaring pemersatu dan modal penggerak peradaban. Terbangunya Piramida disebabkan oleh imajinasi manusia mesir kuno akan kesucian dan keagungan Fir'aun, Revolusi Perancis terjadi disebabkan oleh imajinasi liberalisme dan kesuksesan Amerika dalam Perang Dingin diakibatkan oleh imajinasi kapitalisme.
Dalam proses yang panjang tersebut banyak gejolak yang mewarnai bingkai sejarah. Pada satu abad dapat pastikan terdapat peperangan, wabah penyakit dan bencana alam. Hingga pada akhirnya manusia telah sampai pada peradaban yang sulit untuk dibayangkan oleh pemburu-pengumpul dan petani purba terdahulu. Revolusi sains yang di mulai 1500 Masehi silam telah menunjukan jalan kepada umat manusia untuk singgah ke peradaban modern yang baru seumur jagung ini. Sebelumnya manusia hanya mengandalkan mitos-takhatyul dalam menafsirkan apa yang terjadi di dunia ini. Revolusi Sains bukan hanya berusaha menenafsirkan dunia namun telah berhasil membuat manusia merubah dan menaklukan dunia.
Sains berbeda dengan tradisi pengetahuan sebelumnya. Selama sejarah wajib untuk kepala suku, pemuka agama dan pemimpin adat untuk memiliki jawaban atas segala hal pertanyaan. Berbanding terbalik dengan ilmuwan yang mengawali segala hal dengan pertanyaan. Sains tidak cukup berani arogan seperti tradisi pengetahuan Kristen, Islam dan Hindu yang telah mengeklaim diri sendiri benar. Sains selalu mencari kebenaran dengan mempreteli kebenaran kendati itu berasal dari dirinya sendiri. Tradisi pengetahuan semacam ini memungkinkan manusia rakus dalam memahami dan merubah dunia.
Selanjutnya pengetahuan, uang dan imperium berkonsolidasi untuk menciptakan peradaban. Umumnya disetiap penjelajahan bangsa eropa ke belahan dunia adalah eksplorasi pengetahuan disamping kekuasaan dan kekayaan. Mereka turut membawa Ahli antropologi, biologi, Astronomi dll untuk memahami dunia yang sepenuhnya baru bagi mereka.
Seperti yang dikatan oleh Francis Bacon, Ilmuwan kelahiran tahun 1561 yang mengatakan "knowladge is power". Sampai pada abad 21 ini, sains modern bukan hanya membuat manusia mengadapi perubahan yang serba cepat, namun juga berhadapan dengan ancaman yang lahir dari perubahan serba cepat itu sendiri. Rekayasa genetika, artificial intelegent, internet of thing dan berbagai teknologi baru tingkat dewa lainya telah ditambahkan ke daftar menu ancaman umat manusia selain masalah klasik wabah penyakit, perang dan bencana ekologis.




Komentar
Posting Komentar