Langsung ke konten utama

Postingan

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...

Sejarah Sebagai Guru Kehidupan

Saya memiliki kawan yang bernasib baik. Ia lahir kembali menjadi manusia baru. Alkisah satu minggu yang lalu kepalanya terbentur moncong truck hingga mengakibatkan hilang ingatan parah. Ia tidak mengenal dirinya siapa, dari mana dia berasal dan siapapun orang terdekatnya. Pasanganya yang telah menemaninya selama 3 tahun ia anggap orang asing. Bahkan dirinya sendiri adalah orang asing baginya. Dia bukan hanya kehilangan memori, melainkan kehilangan trauma, cinta, kepribadiannya dan dirinya sendiri. Tanpa sadar manusia di bentuk oleh pengalaman yang tersimpan dalam bank memori otak selama perjalanan hidupnya. Pemahaman atas dirinya sendiri dan dunia sekitar di dapatkan dari proses tersebut, termasuk cara melihat dunia, cara bereaksi dan berperilaku terhadap sekitar.  Ilustrasi mengenai kawan saya yang amnesia tersebut merupakan analogi dari orang buta sejarah. Seorang yang tidak melek sejarah, tidak belajar pada sejarah, mereka seperti orang amnesia yang tidak tahu jati dirinya sendi...

Aku Memberontak Maka Aku Ada, Memahami Absurditas Hidup Bersama Albert Camus

             Hidup ini Absurd!! Ungkap Albert Camus, filsuf Eksistensialis kelahiran Aljaziar abad 20, pencetus Filsafat Absurdisme. Bagaimana tidak, kehidupan telah melemparkan kita ke dalam fakta yang kita sendiri tidak pernah memintanya. Kelahiran kita di bumi bukanlah kehendak kita. Bahagia dan derita telah disediakan oleh kehidupan tanpa pernah kita atur datangnya kapan. Saat senang atas suatu capain tertentu, seperti memiliki ponsel mahal, mendapatkan pekerjaan ternama atau memiliki pasangan rupawan, semua kesenangan tersebut akan hilang dimakan waktu dan menyisakan kebosanan yang kemudian memunculkan keinginan lain. Akhirnya, bukan manusia yang mengejar kebahagiaan melainkan manusia-lah yang dikejar kebahagian.  Jika dilihat secara luas, kita lahir, hidup dan mati di bumi ini ditengah milyaran manusia dan makhluk lainya. Manusia hidup bergantian dengan manusia lainya, mati busuk menjadi tanah dan hanya menghirup nafa...

Kekerasan Seksual dan Kesetaraan Gender : Refleksi Pendidikan Kita

Dalam lingkup institusi pendidikan, kampus menempati urutan paling banyak terjadi kekerasan seksual (27 persen), kemudian pesantren atau pendidikan berbasis islam sebanyak 19 persen. Tingkat SLTA sebanyak 7 persen, SMP, TK, SD dan SLB masing-masing 3 persen. Selain itu, lingkungan kampus menduduki area publik nomor 3 setelah jalanan dan alat transportasi dalam hal kerentanan kasus kekerasan seksual. Survei yang dilakukan Kementerian Pendidikan pada tahun 2020 menunjukkan sebanyak 77% dosen di Indonesia mengatakan bahwa kekerasan seksual pernah terjadi di kampus. Namun, 63% diantaranya tidak melaporkan kejadian karena khawatir terkena stigma.  Kampus yang pada dasarnya berisikan kaum terpelajar justru menjadi tempat bagi predator seksual berbungkus intelektual. Suatu ironi yang saat ini kita hadapi bahwa data tersebut merupakan fakta pendidikan kita yang selama ini jarang disadari. Isu kekerasan seksual di kampus layaknya gunung es yang hanya sedikit terlihat di permukaan. Ini diseb...

Memahami Ulang G30S : Sejarah yang Belum Selesai

  Reformasi membuka gerbang kebebasan bernarasi. Termasuk di dalamnya, yakni sejarah mendapatkan lebih banyak ruang untuk memunculkan narasi-narasi kebenarannya setelah selama dasawarsa lebih di monopoli oleh Rezim Otoriter. Gerakan 30 September tentu saja menjadi bagian sejarah Orde Baru yang sampai kini menyisakan tanda tanya besar. Diskusi baru dan buku-buku diterbitkan untuk merumuskan ulang kebenaran sejarah. Memang pelik, terutama sejarah yang didalamnya terdapat konflik, syarat akan muatan politis dan ideologis yang pada saat itu suhunya memanas. Narasi sejarah yang kita yakini sekarang dibentuk oleh benturan ideologi dan politik yang bertarung memperebutkan kuasa sejarah. Sehingga kebenaran tentang fakta sejarah terkubur dalam berbagai tumpukan jerami tafsiran-tafsiran yang rumit.  Siapa Dalangnya? 1). Partai Komunis Indonesia Bagi Rezim Orde Baru, PKI yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Bahkan sampai sekarang pun, perspektif Orde Baru masih menguasai opini p...

Riwayat Pandemi : Sebuah Telaah Sejarah

Dalam sejarah, COVID-19 bukan satu-satunya wabah yang mengagetkan kemanusiaan. Bila kita mundur ke belakang, terdapat wabah dan penyakit menular yang jauh lebih mengerikan daripada yang kita hadapi sekarang ini. Sejarawan, Yuval Noah Harari menyatakan bahwa setelah kelaparan, musuh terbesar manusia adalah wabah dan penyakit menular. Perjalanan sejarah manusia melewati rombongan virus dan patogen yang telah membuat macet laju peradaban. Beberapa diantaranya adalah Peloponesi, Wabah Justinian, Black death, Cacar, Kolera, Flu Spanyol, SARS, Flu Babi, Ebola, HIV/AIDS dan COVID-19. Tulisan ini akan membahas riwayat pandemi dalam perjalanan sejarah umat manusia yang dapat ditarik sebagai pembelajaran sejarah. Pengaruh penyakit terhadap kematian kiranya menjadi signifikan tatkala manusia mulai memasuki peradaban agraris. Pada masa berburu dan meramu, kematian lebih banyak disebabkan oleh kurangnya nutrisi, intaficide atau pembunuhan bayi, dan geronticide atau pembunuhan orang usia tua. Namun...

Kemerdekaan Indonesia: Perspektif Historis Versi Belanda

Hampir seluruh masyarakat Indonesia tentunya mengamini bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Guru-guru sejarah di sekolah mengajarkan hal demikian, pengetahuan sejarah akan hal itu sudah dipakemkan dan sangat langka sekali peringatan hari kemerdekaan diselenggarakan bukan atas dasar pengetahuan sejarah tersebut. Dengan demikian tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia adalah fakta sejarah yang sudah final, titik.  Argumen diatas adalah konsumsi umum masyarakat tentang kebenaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku dalam penalaran sejarah yang berupaya merekonstruksi peristiwa sejarah. Sejarah sebagi ilmu harus terus berupaya mempertanyakan dan merevisi kebenaran sejarah dengan melihat berbagai perspektif. Kepastian tentang tanggal kemerdekaan Indonesia merupakan tema yang menarik untuk diulik. Terdapat tafsiran berbeda tentang tanggal kemerdekaan Indonesia yang didasarkan perbedaan kepentingan pol...

Pendidikan Sebagai Otak Demokrasi.

  Sokrates terkemuka dalam sejarah merupakan salah satu pemikir yang membenci demokrasi. Bukan tanpa alasan, ketidaksetujuannya atas Demokrasi berprinsip bahwa seluruh masyarakat setara dan memiliki kebebasan. Siapapun itu, terlepas dari suku, ras, preferensi ideologi, kaum buruh atau orang yang tak berpendidikan sama harganya di mata demokrasi. Hal itu yang seringkali menyebabkan kelahiran orang-orang bodoh menjadi pemimpin. Seorang ahli tata negara yang telah melahap ratusan rak perpustakaan bisa jadi kalah suara politisnya dalam menjelaskan "bagaimana ketidakadilan hukum di suatu negara?" dibandingkan dengan seorang artis musik yang baru tenar kemarin. Seorang ilmuwan yang nyaris menghabiskan waktu hidupnya untuk penelitian bisa jadi kalah suara dalam menerangkan “mengapa terjadi gempa?” dibandingkan dengan dukun yang menjelaskan gempa terjadi karena Nyi Roro Kidul marah karena adanya perda syariah pelarangan memakai kemben. Ilustrasi yang dapat menjelaskan hal tersebut ...

Semburan Infodemi di Tengah Covid-19 dan Kecacatan Teori Konspirasi

  Lonjakan kasus COVID-19 membuka mata kita dalam melihat kekacauan penanganan.  Dalam hal ini, sektor media informasi memegang peran vital yang setara dengan otoritas kesehatan. Tugas media informasi tidak hanya menyebarkan pengetahuan namun juga memandu tentang apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh dilakukan dalam situasi saat ini. Seiringan dengan itu, media digital dengan kecepatan dan kemudahan aksesnya menjadi primadona masyarakat dalam mencari informasi.  Akan tetapi, kondisi belakangan ini media digital menyimpan seumbrek masalah  yakni berkaitan dengan infodemi. WHO mendefinisikan bahwa infodemi adalah terlalu banyak informasi, termasuk informasi palsu atau menyesatkan selama wabah penyakit. Tedros Adhnom, direktur jendral WHO mengatakan “ Kita tidak hanya melawan pandemi, namun juga melawan infodemi.”  Pada tanggal 29 Juni, WHO secara resmi memulai pembicaraan tentang efek global dan pengelolaan infodemi dengan Konferensi Infodemiologi ke-1 yang ...