Langsung ke konten utama

Mengenal Generasi Sandwich



Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta.

Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua anaknya yang masih balita.  

Secara terpaksa Umir harus menyukupi  tanggungan tiga generasi, yakni neneknya, orang taunya dan keluarga mungilnya. Mau tidak mau, ia menuntaskan 24/7-nya dengan 3 profesi. Pagi menjadi guru honorer, petang sebagai tukang angkut sampah, dan malam bekerja di ojek online. Nasib Umir bak isi roti lapis, ia daging yang tergencet dua roti. Jalan hidup ini telah ia lakoni sejauh empat tahun, setelah tamat dari bangku sekolah menengah akhir.

“Memang tidak ada yang bisa menduga. Kehidupan masa SMA, bertolak belakang dengan saat ini. Dulu orang itu punya segudang prestasi. Dia juga dipercaya menjadi pimpinan OSIS. Nyaris tak ada siswa tak kenal dia. Kala itu keluarganya terpandang, sebelum virus hedonisme menyerangnya. Saking terpandangya, kuliah-pun ia anggap sebelah mata” benak Arif, teman satu angkatan Umir saat melihat wajah welas Umir di ruang tamunya.

 “Kendati tak memikirkan biaya susu balita dan uang harian istri, ingat Mir, Aku hanya sebatas tuna karya bertitel sarjana” Jawab Arif ketika dimintai hutang Umir.

“Kalau begitu aku harus bagaimana Rif ?, ayahku harus berobat bulan depan, sedang dompetku dahaga” Ungkap Umir sambil mata berkaca-kaca.

“Entahlah Mir, tanpa maksud mengadu nasib. Lebih dari tiga bulan ini, 15 surat lamaranku tidak kunjung terjawab. Mungkin aku hanya bisa memberimu beberapa bualan” Jawab Arif.

Akanku dengar, sebelum mengangkut sampah sore ini” Tandas Umir

Arif berucap “Jadi Mir, potensi emas anak muda Indonesia terancam kandas akibat hadirnya sandwich generation.”

“Apa peduliku tentang itu Rif ?” tanya Amir dengan dahi berkerut.

“Yaa, kau ini juga termasuk sandwich generation Mir, yang porsinya sebanyak 77,8 persen dari total populasi Indonesia, ini beritanya” Jawab Arif sambil memperlihatkan tajuk berita di ponselnya.

“Eum, berarti ada puluhan juta anak muda yang bernasib sama sepertiku yaa?”

 “Iyes, generasi yang memikul beban finansial ganda dan berlipat, yakni beban dalam menyukupi ekonomi keluarga serta orang tuanya atau bahkan yang lain.” Jawab Arif.

            Umir bertanya “Lalu apa penyebabnya itu Mir?”

“Penyebabnya adalah banyak orang-orang yang meremehkan perencaan hidup. Banyak pasangan yang asal nikah, banyak orang tua yang asal punya anak, apalagi boros dan banyak orang yang asal memilih keputusan penting di hidupnya. Mereka masih mengutamakan emosionalitasnya dibanding rasionalitasnya.” Pungkas Arif.

Umir terdiam sejenak, Ia termenung dengan ucapan kawanya itu. Dalam batinya berkata “Benar juga yang dikatakan, itu adalah aku dan orang tuaku dulu kala” Secara tidak langsung Umir akhirnya paham kenapa Arif menunda nikah muda dan tak punya hobi nongkrong  hingga larut pagi saat SMA.

“Mungkin kau tidak begitu peduli kalau ini akan mengkandasnya peluang Indonesia emas 2045, tapi generation sandwich telah membuatmu seperti ini Mir” terang Arif.

“Bukan hanya jadwal tidurku yang kurang, bahkan aku lupa kapan terakhir aku menimang anak balitaku. Kemiskinan dan stres adalah kawan karibku Rif” gerutu Umir.  

Umir bertanya, “lalu apa yang harus aku lakukan untuk keluar dari beban ini Rif?” Entalah Mir, tapi setidaknya kau harus memutus lingkaran setan generasi sandwich dengan cara menyiapkan masa tua kamu. Jangan pernah berpikir bahwa anakmu itu adalah aset di masa tua. Kau harus berdikari bro.” jelas Arif kepada Umir dengan tatapan serius.

Umir membantah “Tapi Riff...”

Ssttt tidak, tidak, tidak. Tidak ada dalam kamus mendidik anak, tidak ada rumus yang mengajarkan bahwa orang tua itu tanggung jawabnya anak” sahut Arif dengan memotong bantahan Umir.

“Anak lahir dan hidup ke dunia itu bukan pilihanya, itu keputusan orang tuanya. Maka secara sadar orang tua harus berani bertanggung jawab memastikan kehidupanya. Jangan dibalik. Banyak anak muda yang bernasib seperti kamu karena juga banyak orang tua yang menganggap anak bukan manusia berdaulat, melaikan anak itu investasi masa tua dan boneka dari orang tua. Berbakti kepada orang tua menjadi kewajiban anak, tapi orang tua juga terlarang memberikan anak beban untuk membahagiakanya. Ini mungkin terdengar sulit diterima, tapi inilah yang seharusnya” lanjut Arif.

Hingga tahap ini, Umir tak mampu berkilah. Nampaknya, ia tak punya stok argumen untuk tandingi lulusan sarjana ini. Arif menambahkan “Anak-anak muda sekarang ini Mir ya, mereka mengalami resesi seksual”

“Apa lagi itu Rif...?” tanya Umir sambil mengerutkan dahi.

“Iya, itu adalah kondisi ketika angka pernikahan mulai menurun. Anak muda mulai rasional memutuskan menikah. Itu terjadi akibat pengalaman traumatis saat menjadi anak dari orang tua yang asal-asalan” jelas Arif ke Umir.

Kepala Umir mengangguk-angguk, menandakan kepahaman.“Mereka lebih memilih untuk menunggu mapan emosional & finansial lebih dulu agar tidak menambah barisan panjang populasi kemiskinan & penelantaran. Kalo lagi susah sendiri dulu, jangan ngajak orang lain, bahkan bikin manusia yang nantinya ia jadikan barang aset” pungkas Arif. Mendengar seluruh ceramah dari Arif, keyakinan Umir tentang kesalahanya di masa lalu makin kokoh.

Memandang raut wajah Umir yang penuh penyesalan, Arif berkata “ingatan itu masih lekat betul Mir, dosen saya pernah berkata gini, jika kau tidak bisa mengubah nasibmu, setidaknya ubahlah persepsimu tentang nasibmu itu. Kata-kata ini begitu mujarab. Buktinya aku masih bisa tenang nganggur kendati dikejar pertanyaan calon mertuaku  tentang kepastian fara calonku.” 

“Lah? Fara satu kelas kita dulu?” kaget Umir.

“Iya Mir itu tak perlu dibahas, tapi kembali lagi, ini bukan berarti pembenaran atas pengangguranku yaa, setidaknya aku punya kendali atas persepsiku.  Persepsiku mengatakan, walaupun aku susah mendapatkan pekerjaan, tapi aku tidak menderita karena punya sakit-sakitan, keluargaku masih komplet dan aku masih bisa berteduh di rumah yang nyaman tanpa khawatir besok mau makan apa. Itu rezeki yang luar biasa bukan” jawab Arif.

“Jadi Mir, kau harus kendalikan persepsimu. Tulislah seribu daftar kenikmatan kecil yang patut kamu Alhamdulillah-kan. Buatlah dirimu menjadi orang beruntung sejak dalam persepsimu sendiri, Ini mungkin akan sedikit mengurai benang kusut jiwamu”  tambah Arif.

Hati Umir bergumam “Pengangguran juga tidak benar, tapi setidaknya aku kalah telak dari Arif. Memang dalam pendidikan tak ada jaminan untuk sukses, tapi pendidikan membantu kita untuk menjadi menang dalam pikiran dan lebih bijak dalam menyortir keputusan penting dalam hidup. Aku harus tidak menutup diri untuk belajar banyak hal baru”.

“Terimakasih Rif, kau tidak memberiku piutang, tapi kutbahmu sangat berharga” Tandas Arif sambil menyalami Arif dengan raut tersenyum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...