Langsung ke konten utama

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!


    Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.  Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik.

Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch, roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga.

Berbekal profesinya sebagai guru, Amir dengan naifnya percaya bahwa ia dapat mengemban tugas sebagai pengganti ayahnya. Amir tidak tahu bahwa gaji guru lebih kecil daripada nilai hasil ujian mengemudi spongebob. Ketika bulan pertama gajian, Amir membuka amplop sambil batin berkata “Ya Tuhan, bahkan untuk hidup satu bulan, gajiku lebih minus daripada suhu di Antartika”. Amir hanya diberi upah 200 ribu rupiah, nominal yang bahkan pekerja lendir tak sudi menerimanya.

Amir bingung, takut mengatakan ini kepada ayah dan ibunya. Apalagi, bulan ini ayahnya harus pergi control ke rumah sakit. “Ayah dan ibu pasti kecewa, sudah habis keringat dan darah untuk memantaskan pendidikanku, namun tak seberapa hasilku” dalam benak Amir. Ia pun terpaksa memutar otaknya. Enggan tak enggan, ia wajib mencari sumber penghasilan sampingan. Hal ini membuatnya menomor dua-kan profesi guru. Akhirnya dia juga terhimpit 2 beban, mencerdaskan generasi bangsa atau menyelematkan ekonomi keluarga?

Apa yang dialami oleh Amir ini tidak jauh berbeda dengan jutaan guru lainya yang tersebar di berbagai wajah bangsa. Tidak heran bila sarjana pendidikan merupakan lulusan yang paling menyesal karena merasa keliru memilih jurusan.  Tanggung jawab guru yang berat nan luhur tidak sepadan dengan kelayakan apresiasi yang didapat.

 Tak ubahnya merubah nasib generasi, para guru harus sibuk mencari kerja sampingan demi mengais sesuap nasi. Oleh sebab itu, jangan heran bila beban meteri, inovasi dan administrasi tidak terjawab. Guru-guru juga punya tanggung jawab keluarga yang harus digarap. “Kenapa aku harus memperjuangkan anak orang lain, sementara ayah ibu lebih butuh perjuanganku” benak Amir. Inovasi dan perbaikan kualitas pendidikan tidak akan lahir, jika Amir dan guru-guru lain masih berjuang dibawa garis kesejahteraan. Hematnya, guru tak mampu menjalankan logika tanpa adanya logikstik.

Fenomena horor seperti ini telah terjadi bertahun-tahun. Pahlawan tanda jasa yang layaknya dimuliakan malah justru dicampakan. Pengkerdilan terhadap profesi guru sudah menjadi fakta sosial yang lumrah. Bila ada tunas bangsa yang bermimpi menjadi guru, Amir sendiri yang akan lantang menyuarakan “Nak, jangan sia-siakan potensi kamu di tempat yang salah, carilah tempat yang lebih manusiawi. Disini kau akan terpenjarakan dengan slogan pahlawan tanpa tanda jasa”.

Tentunya, rendahnya kesejahteraan guru ini memberikan efek domino terhadap bobroknya kualitas manusia di negara kita. Capaian buruk pendidikan Indonesia adalah dengan sukses menghantarkan Indonesia sebagai negara yang tertinggal 128 tahun. Ini bukan saya asal bicara, tapi hasil penelitian dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2016 yang berisi 38 negara. Hasil risetnya menunjukkan kurang  dari 1% orang umur 16-65 tahun yang memiliki kemampuan membaca dan berhitung level tinggi. Disamping itu, cuma 5,4% orang dewasa yang dapat memahami teks panjang. Riset ini dilakukan di Jakarta, jantungnya peradabadan bangsa yang bergelimang akses informasi, pendidikan dan beragam kemudahan. Sungguh miris.

Hal ini juga didukung dengan adanya temuan bahwa kecerdasan manusia Indonesia menempati peringkat nomor dua dari bawah se-Asia Tenggara. Rerata IQ kita hanya 78,49,  satu level diatas kemampuan kognitif orang Idiot, miris. Sementara itu, kemampuan literasi membaca orang Indonesia juga terdegradasi. Minat membaca masyarakat kita hanya 0,001%. Bayangkan saja dari 1000, hanya 1 orang yang rajin membaca. Sangat memprihatinkan.

Kengerian ini menjadi rentetan bukti bahwa sistem pendidikan kita masih punya PR saembrek. Dalam hal ini guru sebagai aktor penting untuk memajukan pendidikan wajib diperhatikan. Bentuk perhatianya adalah dengan memperlakukan upah yang manusiawi bagi guru. Bukan berarti kemuliaan guru di letakan pada apreasiasi dan validasi materi, namun ini soal etika dalam membangun negeri. Jangan sampai tunas muda lebih tertarik menjadi influencer joget tiktok daripada menjadi profesi pendidik generasi. Kesejahteraan pendidik adalah cerminan nasib negeri.  Jangan harap maju, jika abai nasib guru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...