Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai. Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik.
Amir, tinggal bersama kedua orang
tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang
Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai
guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah
menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti
peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch,
roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga.
Berbekal profesinya sebagai guru,
Amir dengan naifnya percaya bahwa ia dapat mengemban tugas sebagai pengganti
ayahnya. Amir tidak tahu bahwa gaji guru lebih kecil daripada nilai hasil ujian
mengemudi spongebob. Ketika bulan pertama gajian, Amir membuka amplop sambil batin
berkata “Ya Tuhan, bahkan untuk hidup satu bulan, gajiku lebih minus
daripada suhu di Antartika”. Amir hanya diberi upah 200 ribu rupiah, nominal
yang bahkan pekerja lendir tak sudi menerimanya.
Amir bingung, takut mengatakan ini
kepada ayah dan ibunya. Apalagi, bulan ini ayahnya harus pergi control ke
rumah sakit. “Ayah dan ibu pasti kecewa, sudah habis keringat dan darah
untuk memantaskan pendidikanku, namun tak seberapa hasilku” dalam benak
Amir. Ia pun terpaksa memutar otaknya. Enggan tak enggan, ia wajib mencari
sumber penghasilan sampingan. Hal ini membuatnya menomor dua-kan profesi guru.
Akhirnya dia juga terhimpit 2 beban, mencerdaskan generasi bangsa atau
menyelematkan ekonomi keluarga?
Apa yang dialami oleh Amir ini tidak jauh berbeda dengan jutaan
guru lainya yang tersebar di berbagai wajah bangsa.
Tidak heran bila sarjana pendidikan merupakan lulusan yang paling menyesal
karena merasa keliru memilih jurusan.
Tanggung jawab guru yang berat nan luhur tidak sepadan dengan kelayakan apresiasi
yang didapat.
Tak ubahnya merubah nasib
generasi, para guru harus sibuk mencari kerja sampingan demi mengais sesuap
nasi. Oleh sebab itu, jangan heran bila beban meteri, inovasi dan administrasi
tidak terjawab. Guru-guru juga punya tanggung jawab keluarga yang harus
digarap. “Kenapa aku harus memperjuangkan anak orang lain, sementara ayah
ibu lebih butuh perjuanganku” benak Amir. Inovasi dan perbaikan kualitas
pendidikan tidak akan lahir, jika Amir dan guru-guru lain masih berjuang dibawa
garis kesejahteraan. Hematnya, guru tak mampu menjalankan logika tanpa adanya logikstik.
Fenomena horor seperti ini telah terjadi bertahun-tahun. Pahlawan
tanda jasa yang layaknya dimuliakan malah justru dicampakan. Pengkerdilan
terhadap profesi guru sudah menjadi fakta sosial yang lumrah. Bila ada tunas
bangsa yang bermimpi menjadi guru, Amir sendiri yang akan lantang menyuarakan “Nak,
jangan sia-siakan potensi kamu di tempat yang salah, carilah tempat yang lebih
manusiawi. Disini kau akan terpenjarakan dengan slogan pahlawan tanpa tanda
jasa”.
Tentunya,
rendahnya kesejahteraan guru ini memberikan efek domino terhadap bobroknya
kualitas manusia di negara kita. Capaian buruk pendidikan Indonesia adalah
dengan sukses menghantarkan Indonesia sebagai negara yang tertinggal 128 tahun.
Ini bukan saya asal bicara, tapi hasil penelitian dari Organisation for Economic Co-operation and
Development (OECD) tahun 2016 yang berisi 38 negara. Hasil
risetnya menunjukkan kurang dari 1% orang
umur 16-65 tahun yang memiliki kemampuan membaca dan berhitung level tinggi. Disamping
itu, cuma 5,4% orang dewasa yang dapat memahami teks panjang. Riset ini
dilakukan di Jakarta, jantungnya peradabadan bangsa yang bergelimang akses
informasi, pendidikan dan beragam kemudahan. Sungguh miris.
Hal ini juga didukung dengan adanya temuan
bahwa kecerdasan manusia Indonesia menempati peringkat nomor dua dari bawah
se-Asia Tenggara. Rerata IQ kita hanya 78,49, satu level
diatas kemampuan kognitif orang Idiot, miris. Sementara itu, kemampuan literasi
membaca orang Indonesia juga terdegradasi. Minat membaca masyarakat kita
hanya 0,001%. Bayangkan saja dari 1000, hanya 1 orang yang rajin membaca.
Sangat memprihatinkan.
Kengerian ini menjadi rentetan bukti bahwa sistem
pendidikan kita masih punya PR saembrek. Dalam hal ini guru sebagai
aktor penting untuk memajukan pendidikan wajib diperhatikan. Bentuk perhatianya
adalah dengan memperlakukan upah yang manusiawi bagi guru. Bukan berarti
kemuliaan guru di letakan pada apreasiasi dan validasi materi, namun ini soal
etika dalam membangun negeri. Jangan sampai tunas muda lebih tertarik menjadi
influencer joget tiktok daripada menjadi profesi pendidik generasi.
Kesejahteraan pendidik adalah cerminan nasib negeri. Jangan harap maju, jika abai nasib guru.

Komentar
Posting Komentar