Langsung ke konten utama

Aku Memberontak Maka Aku Ada, Memahami Absurditas Hidup Bersama Albert Camus



           Hidup ini Absurd!! Ungkap Albert Camus, filsuf Eksistensialis kelahiran Aljaziar abad 20, pencetus Filsafat Absurdisme.

Bagaimana tidak, kehidupan telah melemparkan kita ke dalam fakta yang kita sendiri tidak pernah memintanya. Kelahiran kita di bumi bukanlah kehendak kita. Bahagia dan derita telah disediakan oleh kehidupan tanpa pernah kita atur datangnya kapan. Saat senang atas suatu capain tertentu, seperti memiliki ponsel mahal, mendapatkan pekerjaan ternama atau memiliki pasangan rupawan, semua kesenangan tersebut akan hilang dimakan waktu dan menyisakan kebosanan yang kemudian memunculkan keinginan lain. Akhirnya, bukan manusia yang mengejar kebahagiaan melainkan manusia-lah yang dikejar kebahagian. 

Jika dilihat secara luas, kita lahir, hidup dan mati di bumi ini ditengah milyaran manusia dan makhluk lainya. Manusia hidup bergantian dengan manusia lainya, mati busuk menjadi tanah dan hanya menghirup nafas kehidupan dengan sebentar. Tempat tinggal kita, yakni bumi adalah setitik debu yang malayang-layang di angkasa maha luas. Bisa kita bayangkan, apa pengaruhnya kehidupanan kita pada dunia? Jawabannya, tidak ada. Kenyataan seperti inilah yang membuat kehidupan menjadi tidak jelas, sulit dimengerti dan tidak berarti. Kondisi ketidakbermaknaan ini yang dinamakan oleh Albert Camus dengan konsep Absurdisme.

 Absurdisme secara etimologi berakar dari istilah absurditas bahasa Latin yakni absurdus terdiri dari kata ab berarti tidak dan "surdus" berarti dengar.  Ditinjau secara harfiah Absurd bermakna tidak enak didengar, tuli, atau tidak berperasaan. Isilah tersebut juga mempunyai makna tidak masuk akal atau tidak logis”. Ide absurdisme dalam konsep eksistensialisme mengarah kepada pemahaman bahwa kehidupan manusia yang tidak berarti, tidak dapat dipahami, tidak rasional, dan tidak bermakna serta tidak bernilai (Widyawan A., & Putra, P. 2020).

Albert Camus menjelaskan begitu absurdnya hidup ini dalam bukunya yang berjudul “The Myth of Sisypus”. Buku mitologi itu menceritakan tokoh Sisyphus, seorang yang dihukum oleh Dewa Zues untuk membawa batu besar ke puncak gunung dengan tangan kosong selamanya. Ketika batu telah berada di puncak, batu tersebut kemudian menggelinding kembali ke bawah gunung. Sisyphus kemudian kembali membawa batu itu ke atas, namun setelah berada di atas, batu tersebut kembali menggelinding ke bawah dan seterusnya akan seperti itu. Tugas Sysipus dianggap tidak mempunyai makna, namun Sisyphus harus tetap melaksanaknya tanpa henti. Analogi yang dibuat Camus dalam mitologi tersebut merupakan cerminan kehidupan kita yang tidak penuh dengan rutinas yang kosong dan tidak bermakna. Lahir, menjadi dewasa, bersekolah, mencari pekerjaan, mencari pasangan, memiliki anak, menjadi tua dan mati, seterusnya seperti itu seperti mesin dengan cara kerja mekanistik.

            Sejatinya, semua orang di dunia ini tidak pernah peduli akan makna dan tujuan hidup. Semua orang dapat bangun pagi, bekerja, bermain, bercinta dan menikmati hidup tanpa memusingkan makna hidup. Kendati manusia selalu menggali pertanyaan esensial seperti “apa tujuan hidup?” “apa makna hidup?”, namun jawaban tersebut tidak akan ditemukan. Banyak orang seperti pendeta, ulama dan filsuf mencari makna hidup, tetapi yang mereka dapatkan hanyalah penenang bagi ketakutan dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi misteri kehidupan. Bagi Camus, tidak ada makna absolut dalam hidup ini dan upaya pencarian makna adalah kesia-siaan belaka.

Absurdisme dalam Filsafat Albert Camu juga tidak meyakini adanya Tuhan, agama dan hal-hal adikodrati lainya karena dia adalah Eksitensialis Atheis. Tuhan dan agama merupakan jawaban atas kehausan pencarian makna hidup oleh manusia, hasil dari luapan ketakutan dan pengaharapan ilusif. Tidak ada Tuhan, tidak ada surga, tidak ada hari pembalasan dan tidak ada neraka, itu semua adalah penenang bagi manusia yang takut atas kematian. Percaya Tuhan dan agama, bagi Camus adalah bunuh diri secara filosofis yang berarti memenjarakan kebebasan manusia dengan dogma. Tuhan dan agama tidak lain hanyalah kambing hitam dan pelarian manusia dari absurdnya kehidupan.

Bila memang hidup ini tidak bermakna dan tidak jelas, maka bukankah tidak ada gunanya kita hidup? Bukankah itu satu-satunya cara untuk mengakhiri absurditas hidup? Walapun hidup tidak bisa dipahami dan tidak bermakna, Camus tidak menganjurkan untuk mengkahiri hidup dengan bunuh diri. Melakukan bunuh diri adalah jalan pengecut yang tidak memiliki keberanian menghadapi tantangan hidup. Camus mengatakan “Should I kill myself or have cup of coffe” yang artinya “Haruskah aku membunuh diriku sendiri atau meminum segelas kopi?”, kutipan tersebut merupakan ledekan bagi manusia yang frustasi akan absurditas hidup dan memilih jalan bunuh diri.

Seperti yang dilakukan oleh Sysipus, tidak berhenti mengangkat batu ke atas puncak gunung, kita harus menerima bahwa kehidupan seperti itu apa adanya dan melanjutkan hidup seperti Sisyphus. Satu-satunya cara menjalaninya adalah kita harus membayangkan bahwa Sisyphus bahagia melakukan itu semua. Sebagai filsuf eksistensialisme yang melihat manusia sebagai makhluk otonom dan sempurna dibandingkan makhluk lain, Camus menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang bereksistensi dan dapat menentukan keberadaan dirinya sendiri menggunakan akal pikiranya, sehingga dirinya bebas untuk menetukan makna, tujuan dan arah kehidupannya.

Kehidupan yang absurd harus dihadapi dengan memaknainya sendiri dan melakukan pemberontakan. Memaknai kehidupan sendiri secara bebas dengan tidak menggantungkan pada belenggu agama, mitos, ideologi dan moralitas tertentu. Sedangkan pemberontakan yaitu mereka yang tidak pasrah terhdap ke-asbsurd-an hidup, sehingga bisa memaknai kehidupanya sendiri dan mengembalikan eksistensi manusia. Layaknya, motto Albert Camus, “Aku memberontak, maka aku ada”, pemberontakan akan menentukan eksistensi manusia.


Referensi

 

Widyawan, A., & Putra, P. (2020). Autentisitas Manusia Menurut Albert Camus. Focus1(1), 1-7.

Mursidah, D. (2022). Absurditas Dalam Mitos Sisifus Karya Albert Camus (1913-1960) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

AKHKAM, S. (2002). Absurditas manusia dalam perspektif pemikiran Albert Camus:: Evaluasi kritis atas pandangan antropologi filosofis (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...