Langsung ke konten utama

Sejarah Sebagai Guru Kehidupan

Saya memiliki kawan yang bernasib baik. Ia lahir kembali menjadi manusia baru. Alkisah satu minggu yang lalu kepalanya terbentur moncong truck hingga mengakibatkan hilang ingatan parah. Ia tidak mengenal dirinya siapa, dari mana dia berasal dan siapapun orang terdekatnya. Pasanganya yang telah menemaninya selama 3 tahun ia anggap orang asing. Bahkan dirinya sendiri adalah orang asing baginya. Dia bukan hanya kehilangan memori, melainkan kehilangan trauma, cinta, kepribadiannya dan dirinya sendiri.

Tanpa sadar manusia di bentuk oleh pengalaman yang tersimpan dalam bank memori otak selama perjalanan hidupnya. Pemahaman atas dirinya sendiri dan dunia sekitar di dapatkan dari proses tersebut, termasuk cara melihat dunia, cara bereaksi dan berperilaku terhadap sekitar. 

Ilustrasi mengenai kawan saya yang amnesia tersebut merupakan analogi dari orang buta sejarah. Seorang yang tidak melek sejarah, tidak belajar pada sejarah, mereka seperti orang amnesia yang tidak tahu jati dirinya sendiri. Mereka hidup dengan ketidaktahuan.

Saya mendefinisikan secara gampang sejarah adalah pengetahuan kita tentang siapa diri kita, asal usul dari mana kita, dimana tempat kita sekarang, siapa pendahulu kita, bagaimana kita sampai disini dan kemana kita akan berjalan. Dalam bahasa Arab dikenal dengan syajarotun yang berarti pohon.

2 juta tahun yang lalu, manusia mulai menapakkan kakinya di muka planet ini. Sebuah usia yang dini namun telah banyak menorehkan cerita dan pengalaman bagi sebuah catatan peradaban suatu spesies. Dalam waku 2 juta tahun tersebut manusia telah merangsek menjadi penguasa tunggal bumi. Dengan berbagai kecanggihan perkakas peradabannya manusia menemukan aksara, sejak saat itulah sejarah dimulai, ketika manusia meninggalkan bukti-bukti tertulis. 76 tahun yang lalu sebuah bangsa lahir, bangsa Indonesia yang tanahnya kita pijak. 

Manusia tidak bisa terpisah dari sejarah. Seseorang yang hidup dalam ruang dan waktu memiliki keterhubungan dengan peristiwa yang terjadi dida
lamnya. Tidak bisa disangkal ketika manusia lahir dalam sebuah keluarga, ia hidup dalam suatu entitas wilayah, sebut saja negara. Kemudian negara-negara tersebut berdiri dalam komunitas global yang mempunyai norma, tradisi, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi yang lahir dari proses sejarah. Tidak ada seorang pun yang dapat lepas dari ruang dan waktu.

Semua cerita pahit, kenangan manis dan umat manusia terekam dalam kamera sejarah. Layaknya kamera pintar, di dalamnya tertera informasi tentang kapan, dimana dan siapa yang tertangkap dalam galeri kehidupan. Album-album sejarah tersebut adalah peristwa penting dalam proses jalan hidup umat manusia dengan kebodohan, ketakutan, kebahagiaan dan keserakahan yang turut menjadi bingkai album sejarah. Semua album itu bukan hanya untuk dikenang namun juga ditujukan sebagai pengajaran dan penyadaran. Oleh karena itu terkenal ungkapan bahwa sejarah adalah guru kehidupan (Historia Vitea Magistra)- Cicero.

Mempelajari sejarah bukan hanya menghafal nama-nama pahlawan dan tanggal kejadian di masa lalu. Orang-orang tidak boleh hanya menghafal siapa yang memproklmasikan kemerdekaan Indonesia.  Malainkan harus bertanya mengapa seokarno Hatta memproklamasikan Indonesia?  sehingga sejarah menjadi pembelajaran yang menghidupkan nalar dan dialektika. Tanpa itu sejarah hanyalah kumpulan fakta yang kering tanpa makna.

Seorang yang belajar sejarah seperti detektif masa lalu untuk menelusuri hikmah yang tercecer di berbagai peristiwa lampau. Ia menjadi saksi zaman, sinar kebenaran, pembawa pesan dari masa silam. Seseorang yang tidak dapat mengambil pengajaran dari peristiwa ratusan tahun lalu adalah manusia yang tidak mendayagunakan akal sehatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...