Langsung ke konten utama

Riwayat Pandemi : Sebuah Telaah Sejarah









Dalam sejarah, COVID-19 bukan satu-satunya wabah yang mengagetkan kemanusiaan. Bila kita mundur ke belakang, terdapat wabah dan penyakit menular yang jauh lebih mengerikan daripada yang kita hadapi sekarang ini. Sejarawan, Yuval Noah Harari menyatakan bahwa setelah kelaparan, musuh terbesar manusia adalah wabah dan penyakit menular. Perjalanan sejarah manusia melewati rombongan virus dan patogen yang telah membuat macet laju peradaban. Beberapa diantaranya adalah Peloponesi, Wabah Justinian, Black death, Cacar, Kolera, Flu Spanyol, SARS, Flu Babi, Ebola, HIV/AIDS dan COVID-19.


Tulisan ini akan membahas riwayat pandemi dalam perjalanan sejarah umat manusia yang dapat ditarik sebagai pembelajaran sejarah.


Pengaruh penyakit terhadap kematian kiranya menjadi signifikan tatkala manusia mulai memasuki peradaban agraris. Pada masa berburu dan meramu, kematian lebih banyak disebabkan oleh kurangnya nutrisi, intaficide atau pembunuhan bayi, dan geronticide atau pembunuhan orang usia tua. Namun, setelah memasuki era revolusi agraris, faktor yang menyebabkan kematian berubah. Meskipun manusia sudah memiliki nutrisi yang lebih baik, tetapi kontak satu sama lain yang semakin dekat, baik sesama manusia atau manusia dengan hewan, telah menjadikan penyakit semakin mudah menular dan menjadi ancaman baru bagi kehidupan (Week, 2008: 148) (Tharus, 2020).


Kontak terhadap hewan ini pula yang belakangan diketahui sebagai penyebab virus yang sedang menjangkit dunia akhir-akhir ini, yaitu corona viruses. Weeks (2008:170) menyebutkan bahwa pola makan manusia yang semakin gemar mengonsumsi protein hewani menjadi peluang bagi virus Corona menyebar dari hewan ke manusia (Tharus, 2020).


Wabah pertama yang terlacak dalam sejarah terjadi di kota Athena, Yunani Kuno 430 SM. Wabah ini disebut dengan nama wabah Piloponesia yang menyebar melewati Ethiopia, Mesir, dan Libya. Ketika Athena di kepung oleh Sparta, di saat bersamaan pasukan virus menyusup dengan cara tak terlihat dan berhasil menduduki tubuh-tubuh warga Athena, menjebol tembok pertahanan imunitas sekaligus memicu kekalahan Athena atas peperangan dengan Sparta. Virus ini bertanggung jawab atas tewasnya dua pertiga penduduk.


Wabah selanjutnya adalah penyakit Antonius yang melanda Kekaisaran Romawi pada abad ke II Masehi. Wabah bermula ketika pasukan militer kembali setelah selesai pulang dari perang di timur. Tanpa sadar mereka membawa pulang panyakit yang dapat menewaskan 5 juta warga sendiri melebih senjata tercanggih saat itu. Wabah yang dikenal dengan wabah Antoninus, diberi nama setelah salah satu kaisar, Marcus Aurelius Antoninus meninggal akibat penyakit itu, membunuh seperempat penderitanya. Wabah kedua merebak antara tahun 251 dan 266 Masehi, dan pada masa terburuk wabah itu dikatakan menewaskan 5.000 warga Romawi setiap harinya (Murphy, 2005).


Berikutnya, pada tahun 541 Masehi terjadi wabah penyakit Justinian yang bermula di Mesir kemudian menyebar ke Palestina, Kekaisaran Bizantium dan seluruh Medeterenia. Dampak wabah ini diantaranya mengubah arah kekaisaran, memadamkan rencana Kaisar Justinian untuk menyatukan Kekaisaran Romawi sekaligus menyebabkan kesulitan ekonomi besar-besaran. Kambuhnya penyakit ini selama dua abad berikutnya menewaskkan 50 juta atau 26 persen dari populasi dunia. Wabah ini diyakini sebagai penampilan pertama dari penyakit pes (Putri, 2020).


Tahun 1347-1351 M menjadi masa kecemasan manusia ketika muncul pandemi Black Death (Maut Hitam). Wabah yang bersumber dari Asia timur ini menyebar ke seluruh Asia, Eropa dan Afrika Utara serta bertanggung jawab atas kemusnahan 75 juta – 200 juta populasi dunia. Orang-orang pada saat itu menganggap Black Death sebagai akibat dari kekuatan setan jahat dan kutukan dewa yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan manusia. Do’a bersama, pergi ke tempat peribadatan dan aktivitas masal lainnya merupakan penanganan yang mereka anggap tepat dalam ketidaktahuan dan ketidakberdayaan saat itu. Seiringan dengan kemajuan Ilmu pengetahuan, kepercayaan pada kekuatan setan jahat dan kemarahan dewa digeser dengan penjelasan bahwa biang kerok sebenarnya adalah Yersinia pestis, sebuah bakteri yang menumpang pada kutu dan tubuh tikus hitam.


Dua abad kemudian terjadi wabah yang cukup mengerikan yaitu Cacar yang terjadi pada tahun 1500-an. Virus yang menumpang bangsa Eropa tersebut hampir membuat kebinasaan bagi daerah koloninya di Amerika. Dalam hitungan beberapa bulan, setidaknya sepertiga penduduk musnah, termasuk Kaisar Aztec, Cuitlahuac. Sementara pada Maret 1520, saat armada Spanyol tiba, Meksiko berpenduduk 22 juta jiwa, pada bulan Desember tinggal 14 juta yang masih hidup (Harari, 2019).


Para pendeta dan dokter dimintai pendapat. Mereka menyarankan berdo’a, mandi air dingin, melumuri tubuh dengan bitumen, dan mengolesi luka dengan kumbang hitam yang digepengkan. Tidak ada gunanya. Puluhan ribu mayat tergeletak membusuk di jalan-jalan, tak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Masyarakat Maya di Semenanjung Yukatan meyakini bahwa tiga dewa jahat yakni Ekpetz, Uzannkak dan Sojakak terbang dari desa ke desa pada malam hari, menulari orang-orang dengan penyakit itu. Suku Aztec menyebutnya sebagai ulah dewa Tezcatlipota dan Xipetotec, atau mungkin sihir hitam orang kulit putih (Harari, 2019).


Berikutnya Kolera menyusul pada abad 19 dengan kesuksesanya menewaskan puluhan ribu warga Inggris. Wabah ini disebabkan oleh kondisi sanitasi yang buruk tatkala itu. John Show, seorang dokter mengetahui bahwa penyakit ini berasal dari air minum. Akhirnya pemerintah setempat memutuskan untuk mengganti handle di sumber air Broad Street, sehingga wabah kolera dapat di atasi. Hal ini menjadi acuan negara lain dalam menangangi serangan kolera. Beberapa negara maju telah menang melawan kolera. Namun disisi lain, kolera masih menjadi momok bagi negara dunia ketiga dengan kondisi sanitasi yang buruk.


Giliran pada tahun 1918-1919 Flu Spanyol mengguncang dunia, wabah ini disebabkan oleh virus H1N1 yang kemungkinan berasal dari burung. Diperkirakan 500 juta orang terjangkit penyakit ini dan sekitar 50 juta menyebabkan kematian diseluruh dunia (Rusdi, 2020). Dalam beberapa catatan sejarah, wabah ini juga menyebar sampai ke wilayah Indonesia ketika masih dalam kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.      

 

Setalah itu, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang berasal dari China muncul pada tahun 2003 yang dan menyebar ke 26 negara menjangkiti sekitar 8.000 orang menyebabkan kematian 774 orang. Pandemi baru muncul lagi di AS pada tahun 2009 yang sering dikenal sebutan "Flu Babi". Pandemi ini telah menginfeksi lebih kurang 60 juta warga AS dan telah menewaskan penduduk global sebanyak 575.400. Pandemi ini menginfeksi terutama anak kecil dan orang dewasa paruh baya, sedangkan orang dewasa yang lebih tua memiliki kekebalan tubuh, pandemi ini berakhir pada bulan Agustus 2010. Pandemi Ebola, adalah wabah yang muncul di Guinea Afrika tahun 2014, dan menular ke negara-negara di Afrika Barat seperti Liberia dan Sierra Leone. Wabah ini telah menginfeksi lebih kurang 28.600 orang dan menyebabkan kematian sekitar 11.325 orang (Rusdi, 2020). 


Riwayat pendemi mengisahkan kemenangan manusia dalam menaklukkan wabah sekaligus menunjukan ketidakberdayaan manusia itu sendiri. Kisah wabah berisikan keruntuhan dan kebangkitan kerajaan, kebodohan, dan kemajuan ilmu pengetahuan serta keberhasilan organisme super kecil dalam mengobrak-abrik kehidupan sosial-politik. Riwayat pandemi adalah teater perjuangan manusia dalam menjadi penguasa tunggal di planet ini. Kendati manusia telah sukses menjuarai peringkat pertama dalam rantai makanan, manusia tetaplah satu dari sekian organisme yang menumpang di planet ini, sama-sama lemah dan tidak mustahil untuk punah. 


Oleh karena itu, mempelajari sejarah wabah sama dengan mengumpulkan pengalaman traumatis kemanusiaan yang berguna sebagai self-defense agar lebih hati-hati dalam melewati ranjau-ranjau peradaban seperti ancaman virus yang kita hadapi sekarang ini. Berbagai hikmah yang tersedia dalam sejarah sudah seharusnya menjadi pijakan kita dalam mencermati dan menyikapi situasi masa kini. Sehingga sejarah dapat kita jadikan sebagai alat dalam menangani wabah yang sekarang kita hadapi. Sungguh orang-orang yang tidak dapat belajar dari peristiwa ratusan tahun yang lalu adalah manusia yang tidak mendayagunakan akal sehatnya. 



DAFTAR PUSTAKA


Harari, Y. N. (2019). Homo Deus A Brief History of Tomorrow. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.


Tahrus, Z. N. H. (2020). Dunia dalam Ancaman Pandemi: Kajian Transisi Kesehatan dan Moralitas Akibat COVID-19 (Kajian Demografi Sosial, Departemen Sosiologi FISIP UI).


Rusdi. (2020). Pandemi Penyakit dalam Lintasan Sejarah dan Dampaknya Terhadap Gejolak Sosial Politik. Diakronika, 51-60.


Murphy, V. (2005, November 8). Pandemi Global: Pembunuh Dalam Sejarah. BBC NEWS.


Putri, R. H. (2020, Februari). Sejarah Wabah Penyakit Pembunuh Massal. Historia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...