"Seorang dapat mencapai kebahagiaan dengan menerima bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik" Zeno dari Citium
Kutipan ini yang kini menjadi wallpaper catatan saya di handphone. Saya terkesan. Begitu menyejukan.
Zeno adalah pendiri aliran Filsafat Stokisme. Aliran filsafat ini menjadi satu dari sekian banyaknya tradisi berpikir yang tumbuh subur di ladang pengetahuan Yunani Kuno 300 SM.
Sampai sekarang Stokisme tidak usang dan justru semakin laku dalam menjawab pasar kepelikan masalah manusia modern. Kini orang-orang kembali menulusuri gagasan kuno tersebut untuk mengobati jiwa yang terluka, menjaga ketenangan hati, menyelamatkan diri saat frustasi dan menjawab berbagai keruwetan dalam diri sendiri.
Stokisme mengajarkan kita untuk selalu tenang dan bijak dalam laku keseharian dengan cara mengenali diri sendiri (know yourself) atau penguasaan diri (self mastery). Asumsi dasarnya kita harus bisa membedakan antara apa yang dapat kita kendalikan dengan apa yang diluar kendali kita. Hematnya, yang dapat kita kendalikan adalah pikiran, tindakan dan kata-kata kita. Sedangkan yang tidak dapat kita kendalikan adalah hal-hal eksternal diri kita. Seperti kejadian, perkataan, ekspektasi dan perbuatan orang lain serta apapun yang terjadi diluar kontrol kita.
Nyaris semua kecewa, marah, sedih dan emosi negatif lainya disebabkan oleh hal-hal eksternal yang diluar kontrol kita. Kita sedih jika barang berharga kita hilang, kita akan murung jika orang tersayang justru berkhianat, kita marah bila orang lain mencela kita, kita kecewa jika harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian perasaan bahagia atau tidak tergantung dari suasana dan apa yang terjadi. Perasaan kita seperti prahu kecil yang tanpa arah terombang-ambing dalam lautan lepas tanpa dayung dan mesin motor.
Stokisme mengajarkan kita untuk fokus terhadap apa yang dapat kita kendalikan.
Jika seorang stoikisme dikhianati oleh orang tercintanya, ia tidak akan terkurung dalam kesedihan yang tak berkesudahan. Ia akan berdalih bahwa "Memilih untuk tidak disakiti maka kita tidak tersakiti". Apa yang membuat kita merasa sakit hati adalah persepsi kita yang kita anggap itu menyakitkan. Maka jika ingin tidak tersakiti, kita harus melatih dan menjinakkan emosi kita supaya dapat mempersepsikan hal itu sebagai hal yang netral.
Bagi kaum Stoik, seluruh peristiwa yang terjadi di dunia ini adalah kejadian yang tidak memiliki kepentingan dengan perasaan manusia. Virus Covid 19 menular bukan karena ingin membuat manusia sedih dan takut. Sebagaimana peristiwa lainya juga merupakan kejadian netral tidak memiliki tendensi apapun. Peristiwa tersebut menjadi sesuatu yang menyedihkan karena manusilah yang menempelkan perasaan terhadap peristiwa itu. Sama halnya peristiwa dapat menjadi sebuah kebahagiaan karena manusialah yang melabeli peristiwa itu dengan perasaan yang menyenangkan. Untuk dapat mengatur perasaan supaya selalu bahagia kita harus mampu mengkontrol keinginan-keinginan kita dengan berpikir positif. Karena pikiran bersifat bebas, maka arahkan pikiran kita kearah yang positif karena dari pikiran akan melahirkan kebahagiaan.
Epictetus, salah satu filsuf stoikisme berkata : "Jangan berharap sesuatu terjadi seperti yang kau inginkan, namun berharaplah semua terjadi sebagaimana mestinya."
Seorang Stokisme tidak hidup dalam fantasi harapan kebahagiaan, ia tidak mencari kebahagiaan namun membuat kebahagiaan diri sendiri dalam kondisi apapun. Stoikisme berupaya memahami kenyataan hidup secara jernih dan melihat masalah dengan cara yang luas. Jika seorang Stoikisme
mendengar seseorang berbicara buruk tentangnya, dari pada mati-matian membela diri sendiri ia akan berkata "Mereka tidak lebih jauh mengenaliku. Karena masih ada banyak hal buruk yang belum diketahui dari diriku untuk dibicarakan"
Kebahagiaan adalah perasaan yang kita ciptakan sendiri dengan pikiran tanpa melibatkan suatu peristiwa yang diluar kita. Lebih jelasnya, untuk bisa bahagia, manusia tidak perlu bergantung terhadap tercapainya ekspektasi kebahagiaan yang diimpikanya. Setiap kejadian yang membuat kita sedih, takut, kecewa, marah adalah sebuah peristiwa objektif yang netral lalu kemudian masuk kedalam pikiran kita dan berubah menjadi sebuah emosi negatif(kecewa, panik dan sedih). Hal ini sama ketika kita diputuskan pacar, tidak lulus kuliah, dipecat dari kerjaan atau dikucilkan oleh teman sendiri. Semua itu adalah peristiwa netral sebagaimana apa adanya. Pikiran kitalah yang membuat kontruksi perasaan sedih, kecewa dan takut.
Filsafat Stoik memberikan pemahaman bahwasanya akar dari beragam masalah berasal dari kesalahan berpikir kita, kegagalan dalam memahami kehidupan.
Stokisme memberikan rumus dalam mendapatkan kebahagiaan dengan semudah membenahi cara berpikir. Stokisme percaya bahwa kebijaksanaan berpikir dapat menghantarkan kepada ketenangan, kedamaian dan kesehatan mental.

Komentar
Posting Komentar