Begitulah kira-kira ucapan Sokrates untuk mendefinisikan bagaimana cara memahami pengetahuan. Walaupun dikenal sebagai filsuf brilian, dalam setiap kesempatan berbicara atau diskusi, Sokrates lebih suka menjadi pendengar yang aktiv dari pada menceramahi orang-orang. Aktivitas filsafatnya dilakukan dengan berjalan-jalan di sudut-sudut kota Athena, pasar dan tempat ramai untuk menanyai orang-orang tentang hakikat hidup, moral, manusia dan pengetahuan.
Terdapat kesamaan pola mengenai apa yang diperbuat oleh para pemikir hebat. Mereka berpikir tidak seperti kebanyakan orang. Barangkali jutaan pasang mata manusia melihat apel jatuh, namun hanya Isac Newton yang bertanya "mengapa apel itu jatuh?". Bukan berarti Newton merupakan orang tak punya kesibukan, melainkan nalar kritis yang memandunya untuk bertanya demikian. Pertanyaan remeh Newton membawa lompatan besar ilmu pengetahuan dalam sejarah umat manusia. Gravitasi Newton menjadi prestasi cemerlang fisika dan revolusi ilmiah.
Tanpa membuat definisi yang panjang, berpikir kritis bisa diartikan sebagai kemampuan bertanya. Layaknya kemampuan anak-anak kecil yang baru lahir di dunia. Anak kecil melihat dunia yang begitu baru baginya. Mereka tidak tahu bagaimana dunia harus bekerja. Oleh sebab itu orang dewasa harus sabar menghadapi serangan pertanyaan dari ilmuwan kecil.
Ketika dewasa, orang-orang kehilangan pertanyaan-pertanyan penting itu karena dibatalkan oleh tradisi, kepercayaan, agama dan kebudayaan. Oleh karenanya berpikir kritis membenturkan kepada kemapanan umum yang bercokol dalam masyarakat. Pemikiran yang kritis akan senantiasa mempertanyakan kembali asumsi benar/salah maupun baik/buruk tidak peduli hal itu telah lama diyakini atau baru.
Ibarat X ray, pikiran kritis memperlihatkan apa yang tidak terlihat. Sehingga kemungkinan akan mempertontonkan kompleksitas dan sisi-sisi yang berantakan di balik gemerlapnya dunia. Seorang yang kritis akan selalu terusik pikiranya karena senantiasa melihat ada yang tidak beres dalam dunia ini.
Sebelum tiba kepada kesimpulan pentingnya berpikir kritis. Pertanyaan kritisnya adalah "Mengapa kita harus berpikir kritis?".
Alasan pertama. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang berpikir. Binatang berpikir (Animal Rational) sebuah ungakapan dari Aristoteles untuk mendeskripsikan apa itu manusia. Jika tanpa aktivitas berpikir maka yang tersisa hanyalah binatangnya.
Aktivitas berpikir memegang peran krusial dalam menentukan keputusan-keputusan dalam hidup manusia. Mulai dari pilihan remeh seperti "Apakah saya harus membeli junk food atau harus makan sayur?" sampai keputusan penting seperti "Apakah saya harus mengambil jurusan Psikologi atau memilih tidak kuliah?"
Disisi lain manusia dengan berjibun permasalahanya yang tak henti membuat semakin sulit berpikir jernih. Oleh karena itu berpikir kritis membantu kita mengurai benang kusut setiap masalah dengan mengevaluasi setiap apa yang kita pikirkan dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Sehingga dapat memahami apa yang sebenarnya menjadi masalah dan apa yang tidak penting untuk dipikir.
Alasan kedua. Kita hidup dalam iklim demokratis mengandaikan bahwa rakyat-rakyat rasional akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas karena pemimpin diputuskan oleh suara rakyat. Namun, bagaimana jika rakyat yang tidak kritis ? Apakah tetap akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas? Tentu saja tidak. Rakyat akan mudah di permainkan oleh hoax, diadu domba oleh politisi dan melahirkan pilihan-pilihan politik yang tentu saja irasioanal. Alhasil politisi bejat terpilih untuk memutuskan kepentingan yang mempengaruhi hajat hidup masyarakat banyak. Oleh sebab itu, berpikir kritis tidak hanya untuk membuat keputusan bijak dalam level individual namun juga berguna pada tataran kolektif.
Komentar
Posting Komentar