Idul Adha merupakan momentum besar yang dirayakan miliaran umat Islam di dunia. Hari raya yang disebut dengan hari kurban tersebut merupakan kesempatan umat Islam untuk bersedekah dengan mengorbankan hartanya melalui penyembelihan hewan ternak seperti sapi, unta, kambing, dll. Hal tersebut seperti yang difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah". Idul Adha memberi pelajaran tentang pengorbanan, keikhlasan dan kedermawanan.
Di samping kesalehan teologis dalam berkurban, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi tema kajian keagamaan. Jarang kita pahami bahwa ritual penyembelihan hewan kurban ternyata memiliki dampak bagi kerusakan lingkungan. Tentunya ini menjadi critical point of view yang dapat menjadikan bahan refleksi umat Islam dalam memahami ulang esensi ibadah kurban. Tulisan ini membahas dua isu lingkungan yang inheren dalam perayaan Idul Adha yakni isu sampah plastik dan industri peternakan.
Masalah Kantong Plastik.
Pada saat pembagian daging kurban, lumrahnya masyarakat menggunakan kantong plastik (single use plastic) untuk pengemasan daging dengan pertimbangan praktis dan ekonomis. Sebagai isu kritis lingkungan, tentunya penggunaan kantong plastik sekali pakai berdampak buruk bagi lingkungan. Kantong plastik sekali pakai yang jumlahnya mendominasi sampah plastik sulit terurai secara alami. Butuh waktu ratusan bahkan ribuan, apalagi perilaku masyarakat kita yang tidak bijak dalam menggunakannya. Kebanyakan masyarakat tidak mengelola sampah dengan prinsip 3R yang baik. Lebih buruk lagi adalah perilaku membuang sampah sembarangan yang menjadi kebiasaan masyarakat kita.
Jika sampah plastik berakhir di laut maka akan mencemari dan menganggu keberlangsungan ekosistem laut. Tidak jarang biota laut akan memakan bagian kecil dari sampah plastik yakni microplastic. Diperkirakan jumlah sampah laut akan menggeser jumlah biota laut sebagai penghuni lautan terbanyak di masa mendatang. Dampak yang buruk juga terdapat jika sampah plastik berakhir di pembakaran. Sampah plastik akan menjadi polusi udara. Demikian juga jika plastik berakhir di tanah, maka akan menjadi racun bagi tumbuhan yang berada di sekitarnya.
Hal tersebut merupakan sedikit dari sederet dampak kantong plastik sekali pakai bagi lingkungan. Sampah plastik telah menjadi kedaruratan global. Efeknya menyumbang terhadap ancaman percepatan krisis iklim. Di saat masyarakat global mulai khawatir dengan isu lingkungan, bagaimana dengan kita dan keberagamaan kita?
Terlepas dari faktor-faktor perilaku masyarakat dan industri, penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk pengemasan daging kurban bukanlah pilihan yang bijak. Sebab, pada dasarnya Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin mengajarkan perilaku lestari pada alam sehingga jangan sampai aktivitas keagamaan kita justru mendegradasi dari esensi agama itu sendiri. Sebuah hal yang kontradiktif jika perayaan Idul Adha yang setiap tahun kita rayakan dengan kesakralan namun menyumbang tumpukan-tumpukan masalah bagi lingkungan.
Apa Masalahnya dengan Menyembelih Sapi?
Vegan Muslim Intiave merupakan komunitas muslim di Australia, Kanada dan Amerika yang menolak penyembelihan hewan kurban. Bukan tanpa alasan, penolakan mereka dilandasi oleh pertimbangan ekologis dan teologis yang kuat. Sikap dari komunitas tersebut tentunya mendatangkan kontroversi dan kecaman karena menjadi pandangan yang bersebrangan dengan mayoritas umat Islam yang meyakini bahwa menyembelih hewan kurban adalah anjuran bahkan keharusan bagi yang mampu.
Alasan-alasan mereka diantaranya ialah: mereka percaya bahwa Nabi Muhammad dan generasi awal Muslim mengonsumsi lebih banyak makanan dari bahan tumbuh-tumbuhan, industri peternakan telah merusak lingkungan dan membuat orang kelaparan serta produksi gas emisi rumah kaca dari industri peternakan sudah menurun lebih dari 50 persen dalam 11 tahun. Mereka mengajak untuk menggantikan daging kurban dengan makanan plant-based/protein berbasis nabati dari tumbuhan.
Seruan dari Vegan Muslim Intiative relevan dengan apa yang menjadi masalah lingkungan dan apa yang diperjuangkan oleh aktivitas lingkungan dewasa ini. Dilansir dari ClimateNexus, Peternakan hewan adalah penyumbang terbesar kedua emisi gas rumah kaca (GRK) buatan manusia setelah bahan bakar fosil. Gas metana yang berasal dari serdawa, kentut, dan kotoran hewan ternak merupakan kontributor 16% emisi gas rumah kaca dunia. Selain itu, industri peternakan merupakan penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati, deforestasi, polusi air dan udara.
Bisa dikaitkan bahwa perayaan Idul Adha menambah peningkatan produksi industri ternak. Apabila kurva industri peternakan meningkat maka konsekuensi logisnya dampak yang ditimbulkan juga meningkat. Apakah kita dapat menyimpulkan bahwa Idul Adha turut andil sebagai kontributor krisis iklim dan permasalahan lingkungan lainnya? Silahkan simpulkan masing-masing. Tentunya untuk mengurai persoalan tersebut perlu berpikir secara objektif dengan kerendahan hati untuk menerima kebenaran baru. Artinya pintu-pintu ijtihad haruslah dibuka selebar mungkin untuk memperbarui kebenaran yang telah usang.
Dua persoalan diatas bukan dimaksudkan sebagai senjata untuk menyerang agama Islam namun sebagai bahan muhasabah kondisi keagamaan kita sendiri. Sudah selayaknya kita menyadari bahwa krisis iklim, sampah plastik, dan isu lingkungan lainnya adalah masalah nyata yang bukan hanya mengancam lingkungan namun kemanusiaan itu sendiri. Ditengah-tengah situasi yang mengkhawatirkan seharusnya agama Islam menjadi solusi atas masalah tersebut.
Namun selama ini jarang kita melihat perhatian serius agama Islam terhadap isu lingkungan. Jangan sampai Islam yang menjadikan manusia sebagai Khalifah fil ard justru terdistorsi dengan perilaku umat yang tidak berpengetahuan dan tidak berkesadaran. Sudah saatnya kutbah jum’at, pengajian ibu-ibu, dan TPA harus menjadikan isu lingkungan sebagai kajian atau tema kultumnya. Itu adalah solusi kasar agar upaya penyadaran kolektif umat Islam berhasil.
DAFTAR PUSTAKA
Renaldi, Erwin (2021 Juli 20). Kelompok Vegan Muslim Ajak Kurban Hewan Diganti Makanan Berbahan Nabati. Di akses dari https://www.abc.net.au/indonesian/2019-08-12/kelompk-muslim-ajak-dihentikannya-korban-hewan/11405474
(2021 Juli 29). Animal Agriculture’s Impact on Climate Change. Di akses dari https://climatenexus.org/climate-issues/food/animal-agricultures-impact-on-climate-change/

Jikalaupun tidak ada peternakan bukan berarti tidak ada hewan kan?
BalasHapus