Ratusan abad, kita mempercayai satu ide yang membuat kita merasa spesial dibanding mahkluk lain, bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Kita meyakini hidup adalah produk dari pilihan-pilihan yang kita buat. Kita merasa memiliki kebebasan untuk mutuskan sekolah dimana, berpasangan dengan siapa, memilih profesi, kepercayaan yang dianut, dan mau jadi apa di masa depan. Dongeng itu melahirkan perjanjian tak tertulis bahwa manusia sebagai pilot di pesawat kehidupannya masing-masing. Akan tetapi, bagaimana jika itu hanya sebuah dongeng ilusif yang terlihat meyakinkan?
Coba mulai dari hal paling umum. Semua
manusia tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Tak ada satupun dari kita menandatangani
formulir pendaftaran menjadi manusia Afrika, manusia berkulit sawo matang atau manusia
yang tidak menyembah Dewa Yunani Kuno. Tidak ada yang bisa memilih di abad berapa
ia hidup, model fisiknya, warna kulitnya, atau keluarga yang membesarkanya. Bahkan
sebelum kesadaran muncul, keputusan-keputusan paling krusial mengenai hidup kita,
sudah dibuat oleh sebab-sebab yang sama sekali tidak diluar kendali kita:
genetika, ketidaksengajaan kosmis, dan sejarah makro.
Bayi yang lahir di pelosok Indonesia,
bayi yang tumbuh di California, dan bayi dibesarkan tengah perang tidak
memiliki andil sama sekali atas garis takdir pertama mereka. Perbedaan sepele
pada garis start itu akan menghasilkan kehidupan jauh berbeda saat mereka
dewasa. Kita salah besar jika percaya bahwa ia membentuk dirinya sendiri, ia
dibentuk jauh sebelum ia mampu mengkatakan kata "aku"
Ribuan tahun, agamawan menjawab ini
sebagai takdir. Namun, neurosains memiliki bahasa lain. Gen bertanggung jawab
atas model tubuh. Hormon berdampak terhadap bagaiaman perasaan kita. Lingkungan
membentuk cara berpikir kita. Pengalaman masa kecil meninggalkan jejak pada
otak kita. Bahkan pilihan yang kita anggap paling privasi faktanya dicampuri
oleh proses biologis yang bekerja di balik panggung kesadaran. Saat kamu berkata, "Aku memilih itu,"
sains bertanya: benarkah? Pilihan itu hanyalah produk final dari jutaan aktivitas
sistem saraf yang berlangsung beberapa mili detik, beberapa tahun, bahkan beberapa
generasi sebelumnya
Manusia bisa saja berpikir dirinya
seorang pengemudi handal. Tapi, semakin sains berkembang, justru mempertontokan
bahwa nyaris setiap keputusan manusia dikendalikan oleh sistem yang bahkan tidak
pernah kita pahami. Jika kita tidak memilih untuk hidup, tidak memilih gen kita, tidak memilih dirahmi mana kita
dikandung, dan bahkan tidak sepenuhnya
memilih keputusan-keputusan kita, maka apa sebenarnya yang tersisa dari
kebebasan manusia?
Eksperiman berpikir ini membuat
banyak orang kurang nyaman, hal ini karena semua aspek peradaban modern didirikan
di atas paradigma bahwa setiap insan adalah manusia bebas yang berdaulat atas nasibnya
sendiri. Kita menjunjung nobel penghargaan kepada yang sukses, disis lain kita
juga menyalahkan orang gagal atas asumsi bahwa mereka sepenuhnya bertanggung
jawab atas keputusan hidupnya.
Kenyataanya, sebagian besar
kehidupan adalah akibat dari keadaan yang tidak pernah dipilih siapa pun? Anak cerdas
tidak memilih otaknya. Anak yang lahir dalam kemiskinan tidak memilih
lingkungannya. Bahkan motivasi, ambisi dan disiplin yang sering dipuji sebagai personal
value mungkin berakar dari gabungan genetika dan pengalaman yang tidak bisa
mereka susun sendiri. Semakin jauh memahami dunai bekerja, semakin sulit
mempertahankan gagasan bahwa kita adalah punya kemudi penuh atas kehidupan.
Tetapi ada ironi yang patut
disyukuri. Meskipun kita tidak memilih untuk hadir di dunia ini, kita tetap
harus menjalaninya. Setiap pagi kita bangun. Kita bekerja. Kita mencintai
seseorang. Kita kehilangan seseorang. Kita berharap. Kita takut. Kita menua. Kehidupan
terus bergerak tanpa menunggu jawaban atas pertanyaan filosofis tentang
kebebasan.
Mungkin inilah kondisi manusia
yang sesungguhnya. Kita adalah makhluk yang terlempar ke dalam sebuah cerita
yang tidak kita mulai. Kita tidak menulis bab pertama. Kita tidak memilih
tokoh-tokohnya. Kita bahkan tidak memilih karakter yang kita perankan.
Namun kita hidup di dalam cerita
itu. D/an mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita
benar-benar bebas. Pertanyaan terpenting adalah bagaimana kita memahami keberadaan
kita setelah menyadari bahwa hidup ini tidak pernah kita pilih.Sebab mungkin
kenyataan paling mendasar tentang manusia bukanlah bahwa ia bebas. Melainkan
bahwa ia ada. Dan dari keberadaan yang tidak pernah dimintanya itulah seluruh
sejarah, agama, filsafat, cinta, perang, harapan, dan makna lahir.
Harari, Y. N. (2019). Homo Deus A Brief History of Tomorrow. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.

Komentar
Posting Komentar