Langsung ke konten utama

Pandemi dan Kesadaran Baru Bagi Pendidikan.

 Ketika terjadi perubahan model pembelajaran dari konvensional berubah ke sistem daring, pendidikan kita telah mengalami benturan terhadap perubahan yang terjadi diluar dugaan. Semua komponen dalam pendidikan baik guru, siswa dan birokrasi pendidikan siap atau tidak siap harus menerima kenyataan bahwa pandemi ini merubah semua rencana dan kemapanan yang telah dirancang. Ujian nasional tidak terlaksana, sidang skripsi tertunda dan ulangan tengah semester terpaksa dikerjakan dirumah.

 Sebagai amanat konstitusi bagaimanapun pendidikan harus tetap terlaksana dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, pendidikan formal dilaksanakan dirumah. Hal ini tentunya menimbulkan sebuah dinamika baru dalam pendidikan. Beragam problem akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua, siswa, dan instansi pendidikan ketika menghadapi perubahan ini.

 Tantangan yang kita hadapi adalah perubahan yang menghendaki kebiasaan baru. Tampaknya guru harus terbiasa untuk mengunakan teknologi digital sebagai sarana pembelajaran, orang tua harus terbiasa secara langsung memberikan pendidikan anak dirumah, dan siswa harus terbiasa untuk belajar mandiri dirumah. Sehingga perlu diperhatikan bahwa sebuah perubahan cepat diluar dugaan bisa membuat kegagapan dalam proses adaptasi.

 Oleh karena itu diharapkan dari adanya perubahan tersebut membuat pendidikan kita sadar kembali ke asalnya, bahwa pendidikan secara etis adalah tugas orang tua atau secara melembaga keluarga memiliki fungsi pendidikan. Keluarga adalah lingkungan pertama yang anak kenali, maka sudah semestinya pendidikan mulai ditanamkan sejak dalam keluarga. Dari hal itu penting kiranya untuk mulai beradaptasi dengan perubahan.

 Supaya pendidikan tetap berjalan, orang tua, siswa dan sekolah harus adaptif dengan perubahan. Diharapkan timbul kesadaran bahwa Pendidikan bukan hanya tugas dari sekolah dan orang tua adalah guru terdekat anak. Maka hal ini yang harus diperhatikan agar pendidikan tetap terlaksana di rumah. Momen ini diharapkan menjadi sebuah kesadaran bersama bahwa pendidikan adalah setiap usaha yang tidak lekang oleh waktu dan tempat. Manusia dapat belajar dimana saja dan belajar kepada siapapun.


 Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. - Ki Hajar Dewantara, guru bangsa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...