Berpikir adalah aktivitas penting yang mempengaruhi manusia dalam memutuskan persoalan, menentukan berbagai pilihan dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menerjemahkan pikiran, manusia menggunakan peralatan yang dinamakan bahasa. Dengan menggunakan bahasa, manusia dapat berinteraksi, berkomunikasi atau istilah gampangnya adalah ngobrol. Namun tidak jarang dalam percakapan sehari-hari kita menjumpai berbagai pembahasan yang membuat kita mengambil kesimpulan yang keliru atas masalah dalam pembahasan tersebut. Kesimpulan keliru tersebut merupakan hasil dari proses bernalar yang sesat dimana alur logikanya tidak berjalan secara runtut dan koheren. Kesesatan dalam berpikir juga dapat terjadi ketika seorang salah dalam menarik benang merah antara argumentasi yang dibuat dan kesimpulan yang ambil.
Kesesatan berpikir sering juga disebut dengan Logika Palsu (Logical Fallacy). Berpikir semacam ini membawa dampak buruk bagi kesehatan akal pikiran manusia. Seorang yang bernalar palsu dapat membuat berbagai kekacauan dalam pikiran sehingga membawa rentetan masalah lainnya, seperti salah dalam mengenali permasalahan, menjadi mudah marah, membuat gampang tersinggung, ujaran kebencian, gagal dalam menemukan solusi dan masih banyak lagi dampaknya. Berbahaya lagi jika itu dilakukan seseorang yang secara posisi strategis dalam mengambilan kebijakan yang mempengaruhi hajat masyarakat banyak. Akibatnya bukan hanya menyebabkan kekacauan pikiran, namun juga menyebabkan kekacauan dalam mengambil keputusan.
Yang sering luput adalah, seringkali Logical Fallacy bersembunyi dalam keseharian kita, tanpa sadar kita sering menggunakanya dalam obrolan. Ajaibnya, Logical Fallacy ini dapat memperdayai kita dengan kalimat-kalimat yang nampaknya benar namun menipu pikiran. Itulah sebabnya dinamakan logika palsu. Argumen yang disusun seakan akan tajam dan menusuk namun tidak lebih dari prasangka dan kekeliruan dalam memahami soal. Adapun yang sering kita jumpai diantaranya.
1. Argumentum Ad Vericundiam.
Adalah kesesatan berpikir yang mendasarkan sebuah benar dan salah suatu argumen terletak pada posisi seorang sebagai otoritas. Pada dasarnya orang cenderung setuju dan mengiyakan saja tanpa ada uji kritis terhadap argumen otoritas. Kesesatan ini dapat terjadi ketika kita percaya apa saja yang dikatan guru disekolah, pemuka agama, pejabat negara, pemimpin adat dan semua yang kita jadikan sebagai otoritas. Sebagai contoh sering terjadi pada saat orang selalu percaya apa yang dikatakan oleh seorang otoritas agama. (A) “Pak Kyai berkata bahwa semua barang buatan orang kafir adalah haram dan aku percaya itu benar.” (B) “Mengapa anda percaya itu. ?” (A) “Yaa, diakan uztad dan sudah pasti mendapat petunjuk kebenaran.” Apa yang dikatakan A tersebut adalah kesesatan berpikir Ad Vericundiam. Hal itu karena Argumentasinya tidak didasarkan atas kajian bukti pendukung yang valid. Sebuah pernyataan walaupun itu diucapkan oleh ahli tidak bisa selalu dibenarkan. Kesimpulan yang ditarik haruslah berdasarkan telaah bukti pendukung yang mendalam.
2. Hasty Generalization
Adalah ketika seseorang berpikir dalam men-generalisir sebuah permasalahan berdasarkan sampel yang kurang. Akibatnya sampel tersebut tidak bisa menjadi bukti pendukung terhadap argumentasi yang dinyatakan. Hasty Generalization terjadi karena terburu-buru dalam menyimpulkan sebuah persoalan yang melibatkan banyak kasus. Sehingga ada banyak kasus yang luput dari penarikan kesimpulan. Kasus contohnya adalah, pada saat seorang berpacaran dengan 3 cewek yang berengsek dan penipu dan orang itu membuat kesimpulan bahwa semua cewek itu berengsek dan penipu. Kemudian ketika kita bertemu dengan beberapa orang berjenggot dan ia adalah seorang radikalis. Lalu kita membuat kesimpulan bahwa yang semua yang berjenggot pasti dia seorang radikal. Pengambilan kesimpulan semacam itu adalah contoh dari kesesatan berpikir karena sampel yang dijadikan bukti argumen masih kurang. Sehingga kesimpulan yang dihasilkan invalid.
3. False Dichotomy.
Kesesatan berpikir false dichotomy ini terjadi ketika kita berpikir bahwa dalam suatu argumen hanya terdapat 2 kemungkinan saja. Jika tidak A maka B, jika tidak baik maka buruk, jika dibawah maka tidak diatas. Seperti contoh adalah ketika ada seseorang yang menyatakan bahwa agama itu baik maka tidak bergama adalah jahat, bersekolah itu cerdas maka bila tidak bersekolah adalah bodoh, berolahraga adalah sehat dan yang tidak berolahraga itu sakit, mengkritik A maka satu kubu dengan B, mengkritik B maka satu kubu dengan A. Penalaran semacam ini tidak dapat menghasilkan kesimpulan yang benar karena alur pemikiranya hanya terbatas pada dua pilihan. Seharusnya pilihan dalam berpikir dibuka tanpa batasan dua pilihan saja. Karena untuk menghasilkan argumen yang valid, pilihan kemungkinan harus bervariasi dan bukan hanya mungkin A dan B, namun bisa mungkin A, B, C, D dan E.
4. Slippery Slope.
Kesesatan berpikir yang sering terjadi adalah ketika menyimpulkan sebuah pernyataan dengan langkah-langkah yang terlalu panjang. Langkah tersebut adalah sebab akibat yang dihubung-hubungkan. Contohnya kesesatanya adalah “Jika kita belajar maka akan membuat serius, jika kita serius maka otak akan bekerja keras, jika otak bekerja keras bisa mambuat kita menjadi stres, stres dapat memicu berebagai penyakit. Sehingga kesimpulanya adalah, belajar membuat kita menjadi sakit”. Logika semacam ini membuat kita hanyut dalam runtutan sebab akibat sehingga terdengar logis namun keliru. Kesimpulan yang ditarik berdasarkan langkah yang terlalu banyak tidak bisa dibenarkan. Karena setiap langkah dalam sebab-akibat tersebut hanya dihubung-hubungkan dan tidak memiliki bukti dalam menjamin korelasinya.
5. Ad Hominem.
Kesesatan logika semacam ini adalah yang sering terjadi dalam percakapan sehari-hari. Ad Hominem merupakan kesesatan berpikir yang dialami seseorang ketika membantah/menyatakan suatu argumen dengan didasarkan pada identitas personal seseorang baik dari bentuk fisik, latar belakang ras, agama, suku, etnis dan kelompoknya. Seperti misal ada seorang yang berkata bahwa “Konten anda di Facebook tidak layak ditonton, isinya tidak edukatif” kemudian ada orang menyanggah “Lah, kamu sok-sok an nyinyir, emang bisa buat konten kreatif ? Jangan sok tau jadi orang”. Si penyanggah dalam percakapan tersebut telah mempraktekkan apa yang disebut kesesatan berpikir Ad Hominem. Hal tersebut dikarenakan, Ia menyerang sisi personal lawan bicaranya dan argumen lawan bicaranya tidak digubris, alias keluar dari konteks. Contoh lainya adalah ketika ada orang yang berkata “Untuk membentuk tubuh ideal haruslah rajin olahraga dan makan makanan bergizi”. Lalu ada orang yang membantahnya “Tau apa lu, badan gendut kaya gitu sok-sok an ngomong badan ideal”.
6. Circular Logic.
Pada logika sesat ini, pegambilan kesimpulan didasarkan pada argumen yang berputar-putar. Argumentasi yang dinyatakan tersebut tidak disertakan bukti atas claim kebenaran argumen. Argumen A dibenarkan oleh argumen B dan argumen B dibenarkan oleh argumen A. Seperti misal ada orang mengakatakan bahwa “Tuhan itu ada”, lalu ada yang bertanya “Apa buktinya?” Kemudian orang itu menjawab “Karena kitab suciku bilang seperti itu”. Kemudian bertanya lagi, “Apakah kitab sucimu dapat dibenarkan?” dijawab pula, “Yaa karena kitab suciku berasal dari Tuhan”. Pada penalaran tersebut tidak ada bukti yang disertakan. Sehingga kesimpulan yang ditarik tidak dapat dipertanggung jawabkan.
7. Strawman.
Kesimpulan yang dinyatakan pada kesesatan berpikir ini adalah hasil dari argumen orang lain yang kemudian ditafsirkan secara ngawur. Seperti misal ada orang yang menyatakan bahwa Indonesia ini butuh para ilmuwan untuk kemajuan sains. Lalu ada orang yang meyimpulkan “Loh anda mau menghapus agama di negara ini ? Para ilmuwan itukan kabanyakan tidak beragama”. Dalam argumen tersebut terlihat bahwa kesimpulan yang diambil adalah hal yang mangada-ada atau dibuat-buat. Berpikir semacam ini bertujuan untuk menggiring lawan bicara supaya membantah argumen yang dibuat-buat tersebut. Akibatnya lawan bicara tergiring dalam pembahasan yang diluar alur pemikiran dan keluar dari topik pembahasan.
7 jenis berpikir sesat diatas merupakan sedikit dari banyak jenis kesesatan berpikir yang sering kita lakukan. Sebagai makhluk yang di karunai kemampuan berpikir sudah seharusnya kita berhati-hati dalam membuat kesimpulan atas apa yang kita pikirkan. Karena apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi bagaimana kita bertindak, bertingkah, menentukan pilihan atas kehidupan kita sehari-hari.

Komentar
Posting Komentar