Langsung ke konten utama

Memahami Etika dan Relasi Manusia dengan Alam.



 

Krisis sampah plastik, climate change, perlindungan satwa liar dan apapun isu yang digeluti aktivitis lingkungan nyaris semua setuju bahwa dasar motivasi mereka adalah kepedulian kepada lingkungan. Jargon yang lumrah dikampanyekan adalah "save the earth". Jargon tersebut seolah-olah mengartikan bahwa bumi sedang mengalami krisis dan masa depan bumi hanya berada di tangan kita.

Orang-orang menganggap bahwa krisis lingkungan adalah ancaman kepada bumi. Asumsi yang telah diterima sebagai kemapanan tersebut mampu menggerakkan kolektivitas sosial dalam menanggapi isu lingkungan. Belakang ini banyak kampanye yang menganjurkan memakai totebag, sedotan stainles steel dan berbagai properti ramah lingkungan. Namun dibalik semua trend tersebut selalu ada critical point of view yang berguna untuk mengevaluasi gerakan tersebut. 

Catatan kritis penulis adalah "Apakah kita benar-benar bertujuan menyelamatkan bumi? Apakah kita benar-benar murni peduli kepada lingkungan?."


 Ternyata kita selama ini mengalami bias dalam memahami relasi kita dengan alam sekitar. Sebenarnya yang kita perjuangankan bukanlah kepentingan bumi melainkan diri kita itu sendiri. Argumen yang sering muncul sebagai motif kepedulian adalah "Kita harus menyelamatkan lingkungan dari krisis sampah plastik karena anak cucu kita harus menikmati bumi seperti apa yang kita nikmati" atau "kita harus mencegah krisis iklim karena ini bencana ekologis yang dapat membawa kita kepada kepunahan masal". Motif semacam ini hanya berdasarkan  keuntungan bagi manusia dan kepentingan yang menyertainya. Motif ini begitu jauh dari kepedulian terhadap bumi. Orang-orang yang beralasan seperti itu lebih tepat diberi predikat sebagai pejuang kemanusiaan bukan aktivis lingkungan. 

 Lebih lagi, pertanyaan yang muncul adalah "Apakah benar kita harus menyelamatkan bumi?"

 Jika kita mencoba memahami secara serius sebenarnya bumi bukanlah makhluk hidup yang butuh predikat selamat atau tidak selamat. Bahkan jika bumi tanpa oksigen dan air pun tidak masalah baginya. Konsep bumi rusak, alam asri, lingkungan indah dll tidak lain adalah sudut pandang kita yang penuh dengan bias kepentingan untuk bertahan hidup. Sama seperti kita melihat banjir sebagai bencana alam karena hal itu merugikan manusia. Coba saja jika banjir itu terjadi di tempat yang jauh dari hunian manusia. Niscaya hal tersebut tidak dinamai bencana alam. Dengan demikian sesuatu hal disebut bencana karena mengancam kehidupan manusia.


 Selama ini kita jarang bicara bahwa pembangunan yang kita lakukan menjadi bencana bagi makhluk lain. Berapa juta hektar hutan yang telah kita tebang untuk kepentingan agrikultur dan industri? Berapa juta spesies yang kehilangan rumahnya, anak-anaknya dan hal-hal berharga lainya? Jika kita menjawab bahwa agrikultur dan industri adalah kebutuhan cadangan makanan manusia modern. Sama juga bahwa banjir hanyalah kebutuhan air untuk mencari tempat yang lebih rendah. Kita sama-sama melakukan karena hukum alam. Adapun hal yang jarang kita sadari bahwa manusia pernah tidak ada di bumi dan bumi adalah apa adanya bumi dengan berbagai fenomena alam didalamnya. Pada akhirnya obsesi manusia untuk peduli terhadap alam atau bumi hanyalah upaya manusia untuk memenuhi egoismenya dalam mempertahankan keberlangsungan spesiesnya. Bukan untuk bumi itu sendiri.

 

 Perlu diketahui juga bahwa bumi telah ada sekitar 4 miliar tahun lalu dengan berjuta organisme hidup yang bergantian menghuni planet ini. Begitu juga fenomena alam yang menyertai seperti zaman es, banjir bandang, gerakan lempeng tektonik, perubahan iklim serta bencana ekologis lainya yang tidak jarang mendorong kepunahan masal berbagai spesies. Sedangkan manusia itu sendiri baru menampakan diri dibumi pada 2 juta tahun yang lalu. Bisa dikatakan manusia seperti bocah kemarin yang berlagak sok-sok an ingin menyelamatkan bumi. Perjuangan menyelamatkan bumi seperti usaha manaburkan garam pada air laut supaya asin.


 Dalam istilah filosofis dikenal dengan terminologi Antroposentris yang bermakna "segalanya berpusat tentang manusia". Para cendekiawan menyebutkan  dalam 70.000 tahun terakhir ini sebagai masa Antroposen. Pada masa ini peradaban manusia telah bertanggung jawab atas kepunahan beragam spesies. Mulai dari mamoth, sabre-tooth, jaguar raksasa jauh sebelum manusia memiliki senapan. Selain itu kepunahan megafauna Australia terjadi bersamaan dengan migrasi manusia ke benua tersebut. Tanpa perlu perkakas modern, manusia adalah bencana bagi kehidupan organisme lainya. Hingga kini kita memegang kendali besar atas pengaruh ekologi bumi. Sepanjang milenium, manusia sebagai agen tunggal paling penting dalam perubahan ekologi melampaui asteroid yang memusnahkan dinosaurus 65 juta tahun yang lalu (Yuval Noah, 2015). Baru kali ini dalam sejarah panjang organisme di bumi, nasib kebanyakan spesies ditentukan oleh satu makhluk hidup saja.


 Antroposentris lahir dari naluri manusia supaya dapat survive  dan melanggengkan keberlangsungan spesiesnya. Naluri tersebut merupakan hal yang pasti ada dalam diri manusia sebagai organisme. Walaupun naluri tersebut menjadi biang keladi berbagai kerusakan ekologi dan kejahatan spesies lainya. Kita tidak bisa menyalahkan leluhur kita karena itu adalah biological nature. Berbagai usaha kepedulian alam atau lingkungan pada akhirnya adalah perjuangan untuk menjaga kestabilan ekologi supaya fit & proper dengan kebutuhan manusia itu sendiri dalam bertahan hidup. 


 Penulis bukan bermaksud melukai hati para aktivis lingkungan, namun hanya ingin memberikan perspektif tentang etika atau relasi manusia dengan alam yang sebenarnya usang namun jarang dipahami oleh banyak orang. Penting untuk digaris bawahi lagi bahwa kita sebenarnya makhluk egois yang suka memandang diri kita superior dan istimewa dari pada makhluk yang lain. 


Pandangan semacam itu juga dapat kita temukan dalam beragai agama. Kebanyakan agama menempatkan manusia sebagai makhluk khusus dan mendapatkan keistimewaan menjadi penghuni bumi. Manusia lebih tinggi derajatnya dari kupu-kupu, kucing atau ubur-ubur. Pandangan ini bukan hanya tidak beres secara nalar ilmiah namun juga dapat menjadi justifikasi mengapa kepentingan manusia bisa melampaui berbagai kepentingan makhluk  hidup di bumi ini. Mengapa kita bisa membangun perkebunan sawit dengan membabat habis jutaan hektare hutan? Ternyata kita selama ini angkuh dan selalu ingin diistimewakan. Terdengar gila ketika mendengar bahwa kita sama derajatnya dengan kecoa, beruang atau burung beo maka kita harus belajar biologi secara serius. Itu adalah kebenaran ilmiah. Hendaknya kita benahi terlebih dahulu cara berpikir kita supaya bisa rendah hati ketika memandang alam dan bersopan-santun kepada yang lebih tua serta dapat akrab secara setara dengan makhluk hidup lainya. 


Perjuangan menyelamatkan bumi sebenarnya berarti upaya untuk membuat kondisi bumi selalu ramah dengan manusia. Membuat supaya alam berjalan seiring dengan kepentingan manusia. Bukan untuk bumi atau makhluk lainya. Hal tersebut bukanlah masalah karena memang sangat jarang sekali manusia berpikir tentang kepentingan makhluk lainya dan alam. Baru dewasa ini manusia mengenal toleransi. Sejarah mencatat itu. Penting untuk selalu diingat juga bahwa manusia dan makhluk lainya serta alam adalah bagian integral yang saling bertautan. Jika manusia berbuat kerusakan dan over eksploitatif sama dengan dia merusak tubuhnya secara perlahan. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...