Langsung ke konten utama

Mempertanyakan Cinta Bersama Arthur Schopenhauer.

 











Jatuh cinta begitu indah. Seindah pengalaman yang pernah kita alami, apapun itu. Perasaan antusias, sensasi candu dan kepuasan batin yang membuat hidup lebih bergairah merupakan luapan emosi positif yang hadir ketika jatuh cinta. Disisi lain, cinta dapat membuat hidup lebih suram. Jiwa yang mabuk dan rasionalitas yang buta dapat dengan mudah menggiring manusia kepada patah hati dan penderitaan. Ditolak dan kehilangan pujaan hatinya sama seperti kehilangan motivasi hidupnya. Hari-hari yang cerah sekejap menjadi mendung. 

Sepanjang sejarah, ekspresi cinta termanifestasikan dalam lagu, film, karya seni, puisi dan sastra yang pada gilirannya membentuk persepsi manusia atas cinta itu sendiri. Kebanyakan penyair, sastrawan dan seniman menafsirkan cinta dengan penghayatan yang berbeda-beda. Namun kesamaanya mereka menghayati sensasi sebagaimana apa yang mereka rasakan. Karya-karya mereka adalah representasi pengalaman subjektif. Walaupun tidak semuanya begitu. 

Pemaknaan atas cinta yang lebih dalam datang dari telaah filosofis. Salah satu filsuf yang memusatkan perhatiannya kepada cinta adalah Arthur Schopenhauer. Filsuf kelahiran Jerman pada tahun 1800-an ini merupakan filsuf aliran eksistensialisme dengan karya monumentalnya yang berjudul "The world as will & re-presentation." Gagasan yang terkenal dari filsuf ini adalah Universal Pesimisme. 

Dalam investigasi Arthur Schopenhauer, jatuh cinta tidak lain adalah tipuan alam kepada manusia dalam rangka memperpanjang keberlangsungan spesies yang secara biologis manusia terdesain untuk ber-prokeasi melahirkan keturunan. Alih-alih menganggap cinta sabagi relasi yang mulia dan sakral. Baginya cinta merupakan hasrat liar seksual dan terprimitif yang dilahirkan oleh insting will to live. Semakin tua peradaban manusia, terkemaslah hasrat itu dengan aturan-aturan sosial budaya seperti pernikahan, pacaran dan sebagainya. Insting will to life berada dalam alam bawah sadar, bergerak tanpa kita sadari. Sehingga karenanya orang-orang menganggap cinta itu irasional atau tidak logis. 

Logika Schopenhauer atas cinta ini dipengaruhi oleh basis pemikiran filsafat Budha yang melihat bahwa hakikat kehidupan adalah penderitaan. Mengapa demikian? Budha melihat bahwa manusia adalah makhluk dengan penuh kehendak yang tiada akhirnya. Bisa kita amati di era konsumerisme sekarang orang-orang berlomba membeli apa yang baru, ingin ini itu. Merasa apa yang dimilikinya kurang. Manusia kehilangan kontrol dan disetir oleh keinginan untuk memuaskan kehendak. Manusia selalu dikejar kehendak dan sangat sulit untuk menghindarinya. 

Jika satu kehendak terpenuhi, niscaya kerakusan untuk kehendak lain muncul. Begitu seterusnya. Kehendak tersebut muncul karena adanya rasa kekurangan atas sesuatu. Jika kehendak itu tidak terpenuhi kita akan menderita sedangkan jika kehendak itu terpenuhi kita hanya bahagia sementara karena akan bertemu rasa bosan yang menggantikan posisi kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan adalah bius pereda yang kemudian membawa kita kepada kebosanan. Dengan demikian kehidupan manusia adalah perputaran antara penderitaan dan kebosanan. 

Sebagaimana yang disebut diatas bahwa cinta merupakan bagian dari will to live yang bekehendak tanpa sadar. Ketika kehendak seksual tersebut terpuaskan kita akan terlempar kembali kepada kesengsaraan eksistensial. Kita tidak jarang melihat banyak hubungan asmara yang hanya meledak-ledak diawal namun  berganti kebosanan untuk waktu yang lebih lama kedepan. Bisa dikatakan ketika pasangan membentuk keluarga, seseorang akan tambah menderita karena kehendak yang harus terpenuhi semakin kompleks. 

Pria dan wanita yang berpasangan sebenarnya tak pernah saling memilih, melainkan diseleksi dan dipersatukan oleh “kehendak” secara khusus— melalui insting dan hasrat —semata demi menghasilkan keturunan terbaik. Lumrahnya seseorang menganggap bahwa memilih seorang sebagai pasangan dapat membawa kita kepada kebahagiaan. Padahal sejatinya kita hanya berhasil mempertahankan spesies kita dengan menghasilkan keturunan. Kita telah ditipu kebahagiaan palsu yang dinamakan cinta.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer: Lebih Tinggi Gaji PSK!

     Amir, fresgraduate yang tengah melakoni nasibnya sebagai guru honorer. Meraih predikat sarjana merupakan kebangganya tersendiri. Bagaimana tidak, ia lahir di keluarga yang serba sederhana. Tanpa bantuan program KIP-K, toga sarjana mana mungkin bisa ia pakai.   Menjadi pendidik, suatu idealisasi dia sejak dini. Terbukti, dia sangat serius menempuh masa-masa di kampus dengan mengikuti organisasi, melatih skill baru dan melahirkan karya-karya akademik. Amir, tinggal bersama kedua orang tuanya dan tiga adiknya yang masih berstatus pelajar. Ayahnya, buruh petani, sedang Ibunya buruh asisten rumah tangga. Naas, ketika Amir memulai profesinya sebagai guru, Ayahnya harus purna dini dari pekerjaanya. Komplikasi diabetes, telah menjelma menjadi glukoma yang membuatnya buta. Terpaksa Amir harus mengganti peran ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menjadi generasi sanwidch , roti lapis yang terhimpit beban dirinya dan beban keluarga. Berbekal profesinya sebagai g...

Gerakan Diet Kantong Plastik Sebagai Wujud Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan Menuju SDGs 2030 di Pacitan.

  PENDAHULUAN                  Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan agenda global menuju dunia yang lebih baik untuk tahun 2030. Pada tahun 2015 , Indonesia turut menjadi negara yang mengesahkan agenda ini. Terdapat 17 tujuan yang ditargetkan selesai pada tahun 2030 , s alah satu tujuanya adalah mewujudkan pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Tujuan yang terdapat pada poin ke 12 tersebut merupakan bentuk kek h awatiran dari persoalan krisis lingkungan. Lebih khususnya yang menjadi sorotan saat ini ialah permasalahan sampah plastik. Adapun persoalan sampah plastik ini bukan hanya mengancam lingkungan, namun juga manusia itu sendiri. Menurut penelitian, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan karena dapat mengakibatkan pemicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain i...

Mengenal Generasi Sandwich

Umir, laki-laki 23 tahun, lahir dan berjuang di daerah setengah urban.  Umir tengah melakoni jalan hidup dengan macam topeng. Selayaknya dunia pria, ia memikul peran sebagai Ayah, Suami dan Anak. Sebagai ayah, dia sangat mengasihi dua anaknya, yakni Asa dan Aga. Sebagai suami, dia begitu cinta pada kekasihnya, Afa dan selumrahnya seorang anak, ia sungguh berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu lagi, dia adalah cucu dari Neneknya yang telah tua renta. Semuanya bukan hanya hidup di bawah atap yang sama tapi juga menggantungkan nasib pada orang sama, yakni kepada Umir. Ayah Umir yang mestinya masih produktif, terpaksa harus purna dini dari profesi tukang cukur. Komplikasi diabetes yang menjelma menjadi glukoma telah membuat ayahnya buta. Sementara Ibunya, hanya mengandalkan penghasilan tak menentu dari pekerjaan buruh cucian & setrika. Upahnya hanya mampu untuk meringankan beban cicilan suaminya yang menggunung. Sedangkan Istri Umir tidak bisa mencari sampingan karena dua ana...